Jumat, 26 Desember 2014

JEFF THE KILLER: OUTRAGE – CHAPTER 2 (ORIGINAL SERIES)

 

 

Senter polisi menyinari mobil Cadillac itu. Cairan merah yang jelas2 darah itu menutupi bagian depan mobil. Banyak sekali, bak dituang dari sebuah ember. Terdapat jejak darah yang mengarah ke hutan di dekat pantai.

“Astaga ... Ini mobil milik Peter, adik Randy. Aku sangat mengenalinya.”

“Randy? Anak yang dibunuh oleh Jeff The Killer itu?” tanya opsir yang menemaninya.

“Dimana pengendaranya?”

Well, ini mobil sport jadi jelas hanya bisa memuat dua orang. Namun kami masih mencari para penumpangnya, Pak. Apa menurut anda ini perbuatan ....”

Tiba2 terdengar suara gemerisik dari arah semak2 di belakang mereka.

Para polisi segera mempersiapkan senjata mereka.

“Siapa di sana? Kelurlah!” seru salah satu polisi.

Mereka berjalan mendekat dengan perlahan.

Salah seorang polisi menyibak semak2 itu dan melihat seorang gadis menangis pelan dengan rambut acak2an.

“Astaga, itu Amy Lee.”

***

 

 

Liu segera menghampiri Adam begitu ia sampai di rumah sakit.

“Dimana Amy Lee?”

“Ia ada di lantai 4, tapi polisi menjaganya ...”

Liu segera berlari ke dalam lift.

“Liu, hei tunggu! Kau tak bisa kesana!” Adam mengejarnya, namun pintu lift keburu tertutup.

Liu mencari di setiap kamar hingga melihat sebuah ruangan yang dijaga polisi. Ia tiba di depan ruang itu dan melihat Amy di dalam, ditemani kedua orang tuanya.

“Hei, Nak!” sang kepala polisi mencegatnya, “Kau tak bisa masuk. Ia dalam perlindungan saksi.”

“Apa yang terjadi dengannya?” seru Liu.

“Seseorang membunuh Peter dan Amy adalah saksinya, jadi ...”

“Apa?” Liu menatap mata polisi itu, “Apa ini perbuatan ....”

Ayah Amy marah melihat kedatangan Liu dan segera mencengkeram lengannya, “Kakakmu yang melakukan semua ini! Mengapa? Mengapa ia melakukan semua ini pada putriku?”

“Mr. Lee, tenanglah!” sang kepala polisi berusaha memisahkan mereka berdua, “Anak ini tak ada hubungannya dengan semua ini.”

“Hahahaha ...” terdengar suara tawa. Mereka semua menatap ke arah Amy.

Sambil menyisir rambutnya, ia tertawa.

“Kakakmu mengatakan sesuatu kepadaku di dalam hutan malam itu, Liu.” gadis itu tersenyum dengan tatapan kosong. Sepertinya semua trauma dari kejadian tadi malam telah merusak jiwanya.

“Katanya ia akan mengejarmu. Ia akan membunuhmu. Namun sebelum itu, ia akan terlebih dahulu membunuh orang2 yang kau sayangi.”

Tawanya berhenti dan ia berkata dengan tatapan tajam, “Ia akan membuat semua orang di kota ini membayar atas penderitannya.”

Liu hanya menatap gadis itu.

Tiba2 ia menjerit sambil menjambak rambutnya.

“Tidaaaaaaaak! Ia ada di sana! Ia memegang pisau! Ia akan membunuhku!” Amy berteriak seperti orang gila.

“Amy, tenanglah. Jeff tidak ada di sini!” ibunya berusaha meyakinkannya, namun percuma.

Dengan histeris tiba2 ia berdiri di atas ranjang dan langsung melompat keluar dari jendela yang terbuka.

“AMY! TIDAAAAAAAAK!!!!”

***

 

Hujan mengguyur upacara pemakaman itu. Para pelayat mengenakan payung, namun Liu hanya membiarkan tubuhnya basah oleh hujan.

Warna hitam di langit sangat serasi dengan suasana duka yang tengah menyelimuti hatinya. Matanya hanya tertatap pada orang2 yang mengelilingi batu nisan Amy Lee. Peti matinya telah dimasukkan ke dalam tanah dan para pelayat kini tengah berkumpul untuk mendoakan arwahnya.

Liu tak sadar seorang gadis menghampirinya dan memayunginya dari tetes hujan.

“Aku ikut berduka cita.” kata Tessa. “Aku baru saja tahu kalau dia dulu pacarmu.”

Liu tak menjawab.

“Kenapa? Kenapa Jeff melakukannya?” Liu menoleh ke arah Tessa.

“Kurasa ia tidak mengincar Amy, Liu. Dia pasti berencana membunuh Peter. Dia adalah adik Randy, bukan? Kurasa ia berusaha balas dendam dan Amy adalah, yah ... collateral damage.”

Tessa menggandeng tangan Liu, “Ayolah pulang. Upacara pemakaman sudah hampir selesai.”

***

 

“Kenapa anak itu datang ke sini? Benar2 tak tahu malu.” Mr. Gardnier menatap punggung Liu ketika ia dituntun pergi.

“Liu tak ada hubungannya dengan semua ini.!” sang kepala polisi menatapnya dengan marah.” Ia adalah korban, sama seperti orang tua Amy dan Peter. Jeff membunuh orang tuanya dan juga berusaha membunuhnya. Aku dulu di sana! Aku polisi yang pertama datang ke rumah Jeff malam itu. Aku melihat anak itu terbaring berlumuran darah di tempat tidurnya dan langsung membawanya ke rumah sakit. Beruntung dokter berhasil menyelamatkan nyawanya. Perasaan Liu sama seperti perasaan semua orang yang ada di sini!”

“Huh,” cibir Mr. Gardnier, “Kau seharusnya tak perlu terlalu bersimpati dengan anak itu. Apa kau juga memikirkan orang tua Peter? Mereka telah kehilangan Randy dan sekarang mereka harus menanggung pedih karena kehilangan satu anak lagi? Dimana mayat Peter, apa kau menemukannya? Orang tuanya ingin segera memakamkannya di samping makam kakaknya.”

“Kami masih mencarinya, Mr. Gardnier.”

“Apa ada kemungkinan anak itu masih hidup?”

“Sepertinya mustahil. Ada banyak sekali darah yang ditemukan di TKP. Semuanya bergolongan O negatif, sama seperti Peter. Itu adalah golongan darah yang langka, sehingga bisa dipastikan itu milik Peter. Saya takut, tak ada yang bisa selamat setelah kehilangan darah sebanyak itu. Tak ada ....”

“Sama seperti saat kau mengatakan Jeff The Killer sudah mati?”

Sang kepala polisi terdiam.

***

 

“Kudengar keluarga Peter sudah mengadakan upacara pemakaman simbolik. Mereka akhirnya merelakan anak mereka. Kasihan, tubuh Peter pasti sudah tercerai berai sekarang dan mustahil ditemukan. Lagipula banyak binatang liar di hutan itu ...”

“Adam, kumohon hentikan!” seru Liu, “Aku tak mau mendengarnya.”

“Sori ... Sori ...”

“Jadi, apakah Keith datang ke pemakaman Peter?” tanya Liu.

“Kenapa kau tiba2 peduli dengannya?”

“Keith dan Randy, kakak Peter, dulu bersahabat kan? Jadi kurasa Keith pasti ada di situ, membual tentang bagaimana seharusnya ia membunuh Jeff dari dulu.”

“Kurasa tidak. Kau tidak tahu keluarga Randy juga menyalahkan Keith atas kematian Randy?”

“Hah, kenapa bisa?”

“Keluarga Randy tak pernah setuju Randy bergaul dengan berandalan seperti Keith. Mereka menganggap jika Keith tidak menjadikan Randy anak nakal, mungkin ia tidak akan mati.”

Liu terdiam. Tak ada gunanya saling menyalahkan. Tak ada yang mampu mengubah masa lalu.

Liu juga merasakan stigma itu setiap hari.

Pemuda itu menoleh mendengar suara berdenting yang keras dari sampingnya. Ternyata itu Tessa.

“Hei, kau duluan ke kelas saja, Adam.” kata Liu, “Nanti aku menyusulmu.”

Adam mengisyaratkan OK dengan jari2nya dan Liu segera menghampiri Tessa.

“Hei, butuh bantuan?”

Tessa menoleh dan girang melihat wajah pemuda itu, “Kebetulan sekali, life saviour! Aku kesulitan membuka lockerku.”

“Mana biar aku bantu.”

Tiba2 seorang gadis berwajah Latin mendatangi mereka. Ia adalah Marisol.

“Hei, apa yang sedang kalian lakukan?” tanyanya.

“Ah, aku tak bisa membuka lockerku. Kuncinya entah mengapa tiba2 menjadi tidak pas.”

Marisol tertawa, “Kurasa begitu karena itu lockerku.”

“Oh, maaf!” wajah gadis itu memerah, “Tuh kan aku salah lagi. Aku anak baru di sini jadi ...”

“Tak apa-apa.” kata Marisol dengan ramah, “Aku juga sering keliru kok.”

“Hei! Apa yang kau lakukan!” tiba2 Keith dengan dua temannya, Craig dan Gavin, segera menghampiri mereka. Keith menuding wajah Liu. “Marisol, apa dia mengganggumu?”

“Tidak, Keith. Kau salah paham ...”

Namun Keith tampaknya tak tertarik mendengarkan penjelasan Marisol, “Kau! Jangan dekati pacarku lagi! Satu inchi-pun, kau dengar!”

“Keith, kamu apa2an sih?” Marisol segera menarik Keith dan kedua temannya pergi. Ia sempat menoleh ke arah Liu dan Tessa serta berbisik, “Maaf ya.”

Meeka berempat menjauh dan Tessa menggertak pemuda itu dari belakang, “Apa2an sih orang itu? Kasar sekali? Kenapa gadis sebaik itu mau dengan pemuda sekasar dia?”

“Itu Keith dan pacarnya, Marisol. Dia memang seperti itu orangnya.”

“Keith?” Tessa menoleh, “Keith ... Keith yang itu? Kurasa aku sekelas dengan adiknya, Kevin di kelas Sejarah.”

Tessa berjalan dengan Liu untuk mencari lockernya, “Jadi, ada kabar baru tentang pembunuhan itu?”

“Jenazah Peter masih belum ditemukan, tapi orang tuanya sudah menyerah. Dan pembunuhnya masih belum tertangkap, jadi ya ... kurasa itu berarti belum ada kemajuan. Oya, Tessa ... jika ini tidak menimbulkan trauma bagimu, aku ingin bertanya ...”

“Ya, silakan saja.”

“Apa kau juga ada di sana saat pesta itu ... pesta ulang tahun Billy dimana Jeff ....”

Liu tak mampu meneruskannya, namun Tessa mengerti maksudnya.

“Aku ada di sana, tapi tak melihatnya langsung. Aku ada di lantai atas saat itu. Aku bisa mendengar jeritan dari kamarku dan yang kuingat, aku bersembunyi di bawah tempat tidur sambil menangis.”

“Kau beruntung tak melihatnya langsung, Tes. Seingatku, aku masih ada di kantor polisi saat itu. Aku sedang ditahan dan begitu dilepaskan aku sangat gembira. Namun kegembiraanku itu sirna ketika mendengar Jeff telah ...”

“Oya, ada hal lain yang kuingat dari pesta itu.”

“Apa itu?”

Well, aku mendengarnya sih dari orang2,. Pada saat Jeff melakukan ... yah, kau tahu ... tak ada seorangpun yang datang menolong.”

“Apa?”

“Ya, padahal ada banyak orang di sana. Anak2, bahkan orang tua, namun mereka semuanya seakan terpaku dengan kejadian itu. Tak ada yang menolong Jeff saat ia di-bully. Dan tak ada yang menolong Randy dan Troy saat mereka ....” Tessa terdiam sejenak, “Itu ... itu sangat mengerikan ...”

Liu akhirnya berkata, “Maafkan aku ... seharusnya aku tak mengingatkanmu.”

Suara bel berbunyi.

“Ah, ayo kita harus segera menemukan lockermu sebelum guru datang!”

***

 

Craig duduk dan berniat mencoba mengangkat barbel di ruangan gym sekolah.

“Hei, Craig!” kata Gavin. “Menyingkirlah! Kau tahu kan hanya Keith yang boleh memakainya. Dia big boss di sini.”

“Yeah, tapi kita kan satu geng dengannya. Masa aku tidak boleh mencobanya?”

“Pokoknya hati2 saja kalau dia sampai tahu!”

“Ah,” Craig berbaring di atas alat itu, “Persetan dengannya!”

Craig berusaha mengangkat barbel yang tersangga di atasnya. Ketika ia mengangkatnya, tiba2 dia merasa kram karena beban yang diangkatnya jauh lebih berat ketimbang dugaannya.

“Si ... sial ....seharusnya tak seberat ini ... “

“Craig, ada apa?” Gavin menyadari ada sesuatu yang aneh.

“A ... aku tak kuat mengangkatnya ...”

Barbel itu meluncur dari tangan Craig dan melesat langsung ke lehernya, menghancurkannya dan langsung memutuskan kepalanya.

***

 

Para murid masih bergerombol di depan ruang gym, walaupun polisi sudah menaruh pita kuning. Polisi masih menanyai Gavin, satu2nya saksi mata yang terlihat masih shock atas kematian sahabatnya.

Liu dan Tessa datang dan bertanya pada Adam, yang sudah berada di sana sejak tadi.

“Adam, ada apa ini? Kudengar ada insiden di ruang gym?”

“Barbel yang diangkat Craig meleset dari pegangannya dan membunuhnya. Polisi sedang menyelidikinya. Katanya beban di barbel itu terlalu berat. Tak ada yang bisa mengangkatnya.”

“Jadi ini kecelakaan?”

“Ah, kau ini sama sekali tdak ada bakat jadi detektif!” desah Adam, “ Ada yang mengutak-atik barbel itu. Dan barbel itu hanya boleh dipakai oleh Keith, tahu kan, si kepala preman itu.”

“Apa? Jadi itu artinya ... ”

“Ya, ada yang berusaha membunuh Keith dan ia salah sasaran.”

***

 

Keith masih terguncang atas kematian sahabatnya, Craig pada hari sebelumnya. Marisol mengenggam tangannya, berusaha menghiburnya. Mereka kini duduk2 di taman depan sekolah mereka.

“Aku tak percaya dia sudah tiada. Padahal, siangnya kami masih bercanda bersama.... Siapa? Siapa yang ingin membunuhku?”

“Keith, itu bukan salahmu.” kata Marisol dengan lembut, “Kau harus tegar.”

Tiba2 Gavin mendatangi mereka.

“Gavin? Aku pikir kau libur hari ini?”

“Yah, polisi menanyaiku sepanjang hari ini. Bro, aku bisa pinjam mobil Porsche-mu?”

“Lalu aku pulang naik apa?”

“Pakai mobilku,” Gavin melemparkan kuncinya, “Ayolah kumohon, sejak kematian Craig aku ...”

“Ya, ya .... aku mengerti! Ini pakai saja!” Keith melemparkan kunci mobilnya ke arah Gavin. Ia menangkapnya dengan sigap dan berterima kasih. Lalu Gavin segera meluncur ke mobil sport mewah milik Keith.

“Dasar bajingan itu,” ucap Keith dengan geram, “Craig baru saja meninggal kemarin dan ia malah memanfaatkan simpati orang2 untuk mendapatkan kencan.”

Tiba2 terdengar bunyi ledakan yang amat keras dari arah parkiran. Keith yang terkejut segera menggunakan tubuhnya untuk melindungi Marisol dari efek ledakan. Mereka berdua terjerembap ke tanah.

Keith menoleh. Ia bisa merasakan panasnya ledakan itu dan menoleh, hanya untuk melihat sebuah mobil tengah terbakar hebat.

“Ya Tuhan, Keith!” jerit Marisol begitu menyadari apa yang terjadi, “Itu mobilmu!”

“Oh tidak, Gavin! GAVIN!!!”

***

 

Liu mengetuk pintu. Tessa, lagi2 dengan wajah cerah, membukakan pintu.

“Liu, aku tidak membuatmu repot kan? Orang tuaku sedang pergi jadi aku butuh bantuan dengan dapur.”

“Sama sekali tidak.” Liu tersenyum, “Justru aku lebih senang berada di sini bersamamu ketimbang di rumah.” Wajah Liu memerah dan ia menjadi salah tingkah ketika sadar apa yang baru saja ia ucapkan, “Maksudku lebih enak mengobrol di rumah sendirian daripada bosan sendirian di kamar.”

“Hahaha. Ayolah masuk!” Tessa tertawa. Liu merasa tawa gadis ini telah mencerahkan hari2nya. apalagi setelah kematian Amy, hanya senyum gadis ini yang membuatnya lebih tenang.

“Jadi ...”

Mereka berdua duduk di meja makan setelah usai makan dan membereskan dapur. Mereka berdua sebenarnya tak enak membicarakan tentang kematian2 yang terjadi di sekitar sekolah mereka, namun tak ada topik lain yang bisa didiskusikan di kota sekecil ini.

“Jadi apa mereka sudah menemukan pelaku pembunuhan Craig dan Gavin?”

“Belum ada petunjuk. Siapapun bisa menanam bom saat pelajaran berlangsung. Sangat sepi di sana saat sekolah sedang berjalan, kau tahu.”

“Tapi lihat sisi baiknya, sekolah libur selama seminggu. Semoga mereka menggunakan waktu itu untuk mengecat ruang gym. Bekas cipratan darah itu benar2 mengerikan.”

“Ya,” Liu tertawa getir, “Tapi kau tahu, ada sesuatu yang aneh dengan semua ini.”

“Apa itu?” Tessa tampak tertarik mendengarnya.

“Kurasa ini bukan perbuatan Jeff.”

“Apa?” Tessa tampak terkejut, “Mengapa kau mengatakan seperti itu?”

“Jeff dan pembunuhan2 ini sangat .... berbeda. Usaha pembunuhan terhadap Keith ini sangatlah terencana dengan rapi, sedangkan Jeff ... ia membunuh dengan spontan. Aku ingat kata2nya ... saat ia berusaha membunuhku ... tidurlah, pergilah tidur ...”

Tessa mengenggam tangan Liu, “Kau tak perlu menceritakannya jika kau tak mau ...”

“Tidakkah kau mengerti, Tessa? Kurasa Jeff sudah mati dan ada yang berusaha mengkambing-hitamkan dia atas semua kejadian ini.”

Copycat killer maksudmu?”

Liu tampak berpikir, “Mungkin saja. Tapi apa tujuannya? Jika ia berusaha membunuh Peter dan Keith, tak ada orang selain Jeff yang memiliki motif sempurna untuk membunuh mereka. Peter adalah adik Randy yang sudah membully-nya dan Keith adalah orang yang membakar wajahnya. Tapi ah, seperti ada yang kurang di sini ...”

Tiba-tiba telepon genggam Liu berbunyi.

“Maaf, aku harus mengangkatnya. Ini dari Adam”

“Tak apa, Liu.”

Liu menerima telepon itu. “Hai, Adam. Ada apa? Tumben kau meneleponku malam2 begini?”

“Hei bro, kau dimana? Aku ada di rumah sakit sekarang dan sedang memeriksa file2 di sini. Aku menemukan sesuatu yang ganjil. Kurasa kau harus melihatnya. Aku memiliki teori tentang siapa dalang dibalik semua pembunuhan ini. Seperti katamu, ini mungkin bukan perbuatan Jeff.”

“Benarkah, apa itu?” tanya Liu penasaran.

“Aku tak bisa mengatakannya. Datanglah kesini supaya kau bisa langsung melihatnya.”

“Hei, ini bukan trik kotormu supaya aku datang dan menemanimu main kartu di sana kan?”

“Bukan, bodoooooh! Cepatlah ke sini, kutunggu!”

“Baiklah, bro!” Liu menutup teleponnya. “Maaf, kurasa aku harus pergi sekarang, Tes.”

“Ada apa dengan Adam? Apa terjadi sesuatu dengannya?”

“Katanya dia punya bukti yang bisa membantu kita memecahkan misteri pembunuhan2 ini. Dia memintaku segera ke rumah sakit untuk menemuinya. Mungkin bukan apa2. Kau tahu kan dia suka sok detektif seperti ini.”

Tessa tertawa, “Baiklah. Terima kasih atas bantuanmu, Liu.”

***

 

Liu sampai di rumah sakit. Ini pertama kalinya ia datang ke sini sejak kematian Amy. Ia merasa trauma, terutama melihat lapangan parkir dimana dulu tubuh gadis itu tergeletak tak bernyawa. Namun tak ada pilihan lain, ia harus menemui Adam sekarang.

Ia masuk. Para penjaga sudah mengenalinya sehingga membiarkannya masuk. Di dalam sudah mulai sepi. Jam berkunjung sudah habis. Rumah sakit juga memiliki peraturan yang sangat ketat tentang para penjenguk. Hanya ada beberapa suster jaga yang masih berjalan kesana kemari.

Adam biasanya menunggui ayahnya di ruangan di lantai 4. Liu tahu untuk pergi kesana, ia harus melewati ruangan dimana Amy mengakhiri hidupnya, namun ia tak punya pilihan lain.

Ia benar2 benci rumah sakit. Adam biasa memintanya dengan mata berkaca2 untuk menemaninya di sini dan ia hanya melakukannya beberapa kali. Orang tua Adam sudah bercerai dan hanya dia anak yang memutuskan ikut dengan sang ayah. Daripada sendirian di rumahnya yang besar, Adam lebih memilih menunggui ayahnya bekerja hingga larut malam di rumah sakit ini. Lagipula ada wi-fi di sini yang membuatnya betah.

Liu hampir tak menjumpai seorangpun di lantai 4. Ia berjalan masuk ke ruang rekreasi, ruangan dimana para dokter sering berkumpul di waktu istirahat. Ada beberapa sofa yang nyaman serta televisi di sana. Tempat ini selalu membuat Adam betah.

Namun saat ia datang, lampu dalam keadaan mati. Ini aneh, pikir Liu.

“Adam, kau di sana?”

Liu berusaha mencari tombol lampu ketika tiba2 ia tersandung sesuatu.

“Aduh!” seru Liu. Ia menoleh untuk melihat apa yang telah membuatnya terjatuh.

Matanya membelalak begitu menyadari ada mayat yang terbujur kaku di sampingnya.

Itu mayat Adam.

“Adam! Adam!” seru Liu dengan panik. Ia berusaha menekan dada Adam, berusaha menyelamatkannya, namun percuma. Liu tak merasakan denyut jantung sahabatnya itu. Darah membasahi dada Adam dan kini tangan Liu saat ia berusaha menyelamatkannya.

“Angkat tanganmu!” seru seseorang dengan suara keras. Ia mendongak dan melihat beberapa polisi menodongkan senjata ke arahnya.

Mereka menatap Liu yang tangannya berlumuran darah dengan penuh rasa curiga.

“Demi Tuhan, apa yang telah kau lakukan?”

 

TO BE CONTINUED

Sabtu, 20 Desember 2014

JEFF THE KILLER: OUTRAGE – CHAPTER 1 (ORIGINAL SERIES)

 

jeff_the_killer__after__by_illusionsadako-d63wleb

Cerita ini merupakan sekuel dari creepypasta “Jeff The Killer”. Berbeda dengan cerita2 yang sebelumnya ada di blog ini, cerita bersambung ini tidak bertema supranatural, melainkan slasher. Untuk yang belum mengetahui cerita aslinya, harap membacanya terlebih dahulu (dengan mencarinya di google) agar bisa memahami cerita bersambung ini.

Cerita ini berlabel “original series” dan merupakan murni karyaku sendiri (bukan terjemahan). Hanya ada 4 chapter dalam cerbung ini (chapter terakhir akan kubagi menjadi 2 part, A dan B). Silakan dinikmati.

  ***

 

Suara sirine mengaum di tengah kegelapan malam. Semua polisi di New Davenport dikerahkan untuk menangkap sosok menakutkan itu. Walaupun mereka tahu ia baru berumur 17 tahun, namun tak ada yang berani main-main dengannya. Semua menggunakan senjata lengkap. Tak ada yang ingin pembunuh ini lolos dan melakukan aksi biadabnya.

Ia harus dihentikan malam ini.

Para polisi telah mengepung Devil’s Rock, julukan bagi tebing yang menjorok ke laut dengan batu karang menghampar di bawahnya. Terdengar suara ombak berderu dengan keras, seolah lautan sedang mengamuk. Angin memang bertiup kencang malam itu. Bulan hanya bersinar separuh, menerangi pantai berbatu kota New Davenport.

“Aku melihatnya!” seru seorang polisi ketika lampu senternya mengenai sosok bertudung itu. Pemuda itu kembali lari, kali ini menuju ke ujung Devil’s Rock.

“Tangkap dia! Tangkap!” seru sang kepala polisi.

Sekitar sepuluh polisi kini mengepungnya, semua mengacungkan senjata mereka ke arahnya. Sosok itu hanya berdiri di ujung tebing, tanpa terlihat merasa takut sedikitpun.

“Jeff!” seru sang kepala polisi, “Jeff The Killer!”

“Ya ...” jawab sang pemuda dengan suara serak yang menakutkan.

“Menyerahlah! Kau sudah dikepung!”

Pemuda itu tertawa. Semua polisi dibuat merinding dengan suaranya. Hanya ada kejahatan di dalam suaranya. Kejahatan yang murni. Tanpa ternoda sedikitpun kebaikan.

Sudah tak ada lagi yang tersisa dalam jiwanya kecuali kebencian.

“Kau tak bisa lari lagi!” seru sang kepala polisi lagi. Namun Jeff sama sekali tak berniat untuk lari. Ia membuka tudung yang menutupi wajahnya. Bulan kembali bersinar ketika awan yang menutupinya bergeser.

Semua polisi menahan napas ketika wajah Jeff terlihat jelas.

Cerita mengatakan bahwa Jeff memulai kebiasaan membunuhnya setelah wajahnya terbakar hebat. Mereka sendiri tak pernah melihat wajahnya. Konon bila seseorang melihat wajah Jeff, maka itulah hal terakhir yang akan ia lihat sebelum Jeff menusukkan pisau ke dalam jantungnya.

Mereka selalu mengira wajah Jeff hancur terbakar, seperti Freeddy Krueger. Namun malam ini rumor itu terbukti salah.

Wajahnya dilapisi kulit putih yang tersusun sangat janggal, seperti plastik menutupi wajahnya. Kulit itu, walaupun menutupi luka bakarnya, terlihat membuat wajahnya tanpa ekspresi. Matanya terbuka lebar, sebab konon para dokter tak bisa memperbaiki kelopak matanya yang terbakar habis akibat kejadian itu. Ia tak pernah bisa menutup matanya, ia tak pernh tidur. Dan mulutnya sangatlah ganjil. Bibirnya begitu tebal, seolah membengkak. Dan ia tersenyum, ia pernah bisa berhenti tersenyum, sebab wajahnya menjadi kaku akibat kejadian itu.

“Kalian salah ...” katanya di bawah rembulan sambil tertawa dengan sangat mengerikan.

“Kalian takkan pernah menangkapku!”

Tanpa diduga seorang pun, ia tiba-tiba melompat ke bawah, ke arah jurang yang menganga di bawahnya.

“Hentikan!!!” seru sang kepala polisi. Para polisi segera bergegas melihat ke bawah tebing.

Hanya ada bebatuan tajam dan buih ombak yang menerjangnya.

Tak ada tubuh Jeff.

Ia pasti telah tersapu ombak.

Yang mereka tahu, tak ada yang bisa selamat jika terjun ke karang-karang itu.

Tak ada yang bisa.

Bahkan Jeff The Killer sekalipun.

***

“Malam tadi, polisi berhasil memojokkan Jeff The Killer di Devil’s Rock sebelum akhirnya ia melompat ke dalam laut ...” para siswa sedang sibuk memusatkan perhatian ke layar televisi, sesuatu yang jarang terjadi di kantin New Davenport High. “Jeff The Killer yang telah meneror warga selama bertahun-tahun akhirnya tewas. Kota ini akhirnya bisa bernapas lega.”

Semua orang bersorak kegirangan.

Namun tidak untuk satu orang.

Perasaannya bercampur aduk. Di satu pihak, siapa yang tidak senang mendengar pembunuh berantai yang paling ditakuti itu akhirnya mati?

Namun di sisi lain, Jeff adalah kakaknya.

Liu, pemuda itu, tak tahu apakah ia harus senang atau sedih.

Di luar kantin, ia bertabrakan dengan seorang gadis.

“Ah, maaf!” kata Liu ketika melihat gadis itu dengan panik memunguti buku2nya yang terjatuh di lantai.

“Justru saya yang harusnya minta maaf.” Liu segera membungkuk untuk membantu gadis itu.

“Saya hanya panik, saya rasa saya sudah terlambat ke kelas berikutnya.”

“Tenanglah Nona,” Liu tertawa, “Ini jam istirahat makan siang. Kau murid baru ya?”

“Benarkah?” gadis tertawa, “Well, itu menjelaskan mengapa perutku sudah lapar. Sebenarnya tidak terlalu baru. Aku dulu tinggal di sini lalu pindah. Namun sekarang keluargaku kembali lagi ke sini. Ini hari pertamaku bersekolah di New Davenport High.”

Gadis itu terdiam sejenak mempelajari wajah Liu.

“Engkau Liu kan?”

Liu tertawa, “Yah, kurasa aku memang mudah dikenali di sini. Hanya ada dua murid Asia di sekolah ini.”

“Aku Tessa. Kau mungkin tak ingat aku, namun kita pernah bertemu dulu sewaktu kita masih kecil. Kakakku, Billy, adalah anak yang berulang tahun ketika di pesta itu Jeff ...” gadis itu terlihat sulit meneruskan kata-katanya.

Ya, Billy. Liu ingat. Di pesta Billy-lah Jeff pertama kali membunuh. Dan di pesta itulah ia kehilangan semuanya. Wajahnya dan juga kewarasannya.

“Ah maaf, aku pasti menganggu makan siangmu ya.” gadis itu tertawa, “Silakan, lanjutkan saja lagi makan siangmu. Kurasa aku juga akan makan, kecuali ...” ia tampak berpikir, “Kurasa aku akan butuh bantuanmu untuk menemukan kantin.”

Liu tertawa sambil menunjuk pintu di sampingnya, “Kurasa di pintu dengan tulisan besar berbunyi ‘KANTIN’ di atasnya ini.”

Wajah gadis itu memerah karena malu, “Wah, benar2 hari pertama masuk yang memalukan. Mungkin, ehm, kau bisa mengantarku ke dalam dan duduk bersamaku? Aku benar2 tak kenal siapapun di sini.”

Liu memicingkan matanya, “Kau benar2 mau makan bersamaku?”

“Ya, tentu saja. Kenapa?”

Sebab tak ada seorangpun yang mau makan bersama adik Jeff The Killer, pikir Liu.

***

Liu duduk di bangku batu di halaman sekolah sambil menatap seorang gadis, Amy Lee, yang kini sedang bermesraan dengan seorang pemuda tampan. Ia adalah Peter.

It sucks men! Melihat mantanmu sedang bermesraan dengan salah satu cowok idola di sekolah ini padahal kalian baru putus sekitar seminggu yang lalu.”

Liu menatap Adam, sahabatnya sambil membuka mulutnya, “Serius kau mengatakan hal sekejam ini kepadaku?”

“Kau akan cepat melupakannya jika kau sering mendengar fakta2nya. Dan faktanya adalah she’s a goddamn bitch. Admit it!”

Liu menghela napas, “Itu bukan salahnya jika dia mencampakkanku. Ketika pertama berkenalan, Amy murid baru di sini dan aku lupa menceritakan satu detil kecil tentang siapa aku ...”

“Bahwa kau adalah adik Jeff The Killer ... kurasa itu adalah sebuah detil penting yang harusnya tak kau lewatkan saat berkenalan dengan seseorang, Liu!”

“Ya ya ya, aku tahu ...” Liu menyeruput kembali ekspresso kalengnya, “Tapi tak ada yang mau kencan dengan adik seorang pembunuh berantai.”

“Hei, bro!” Adam menepuk pundaknya, “Aku ikut menyesal atas kematian Jeff. Aku tahu dia adalah buronan, tapi dia tetap kakakmu.”

Liu teringat pengalaman ketika ia dan Jeff masihlah saudara. Ia ingat Jeff berkelahi dengan tiga berandal itu untuk membelanya. Ketika polisi datang untuk menangkap Jeff, Liu maju membela kakaknya dan membiarkan dirinya ditangkap untuk melindungi Jeff. Dulu sedekat itulah mereka. Mereka berdua tak segan mengorbankan diri demi melindungi satu sama lain.

Namun semua berubah malam itu, di malam dimana ia membunuh kedua orang tua mereka.

Dan berusaha membunuhya.

“Tidak, Jeff bukan kakakku.” kata Liu tegas. Ia menatap Adam dengan tajam, “Hubungan persaudaraan kami sudah lama berakhir. Ia bukan lagi kakakku.”

“Oke oke” Adam mengangkat kedua telapak tangannya, “Aku takkan berdebat denganmu tentang hal itu.”

Liu kembali memperhatikan Amy. Caranya tertawa benar2 membuat Liu merasa rindu terhadapnya.

“Hei, kau mau ke rumah sakit malam ini? Aku harus menemani ayahku malam ini. Di sana kita bisa ngobrol dan main kartu sepuasnya.”kata Adam ketika memperhatikan raut sedih di wajah Liu.

“Dikelilingi orang2 sakit dan sekarat? Tidak terima kasih.”

Adam adalah seorang anak yang tak mudah bergaul, bahkan akan dicap sebagai anak aneh dengan standar anak SMA di Amerika. Namun ayahnya adalah kepala rumah sakit di kota ini dan orang yang sangat disegani., sehingga tak ada yang berani macam2 dengannya. Liu beruntung berteman dengannya. Menjadi adik Jeff The Killer adalah hal yang sangat sulit. Jika tidak berteman dekat dengan Adam, Liu yakin ia pasti sudah dibully habis2an.

Tiba2 seorang pemuda lewat di depan mereka. Pemuda itu memandangi Liu dengan tajam, namun kemudian perhatiannya teralihkan dengan gadis cantik yang menggandeng tangannya.

“Lihat! Lihat! Itu Keith, musuh besarmu!” seru Adam. Keith adalah pemuda yang bertanggung jawab atas rusaknya wajah Jeff. Dulu ia bersama kedua temannya, Troy dan Randy berusaha membully Jeff saat pesta ulang tahun Billy, tetangga mereka. Jeff kehilangan kesabarannya dan berhasil membunuh Troy dan Randy. Namun Keith berhasil membakar tubuh Jeff. Di sanalah semua kegilaan Jeff dimulai.

Karena Keith.

“Apa aku tak salah lihat? Itu Marisol Gonzalez kan yang bersamanya, si cewek Latin tercantik di seluruh New Davenport?”

“Haha.” Liu tertawa, “Siapa yang patah hati sekarang? Bukankah kau naksir Marisol sejak kelas 7?”

“Mengapa dia mau pacaran dengan berandal itu ....arrrrgh!”

Namun Liu dalam hati tak setuju dengan perkataan Adam. Sejak kejadian itu, Keith mulai berubah. Ia bukan lagi pemuda brengsek yang gemar membully anak yang lebh kecil darinya. Ia berubah menjadi lebih .... pendiam. Kurasa peristiwa mengerikan di pesta itu, melihat dua teman dekatnya terbunuh, menimbulkan trauma di dalam hatinya.

Keith tahu ia menjadi sasaran utama Jeff The Killer. Semua orang di kota ini tahu. Para polisi mati2an membelanya. Apalagi karena ia adalah anak dari mantan wali kota. Mereka berhasil melindunginya, namun tidak anak2 yang lain. Karena tak berhasil menghabisi Keith, ia mengubah targetnya menjadi anak2 tak berdosa yang tinggal di kota ini. Sekitar 12 anak telah tewas terbunuh sejak Jeff memulai aksinya.

Namun tetap saja Keith selalu memandanginya dengan wajah bermusuhan. Ia tak pernah sekalipun bicara padanya. Dan Liu juga tak tertarik untuk mengobrol dengan orang yang telah menghancurkan hidup kakaknya.

“Kau serius tak mau menemaniku di rumah sakit?” kali ini Adam terdengar seperti memohon. Pasti dia kesal sekarang gara2 melihat Marisol bermesraan dengan Keith.

“Tidak, terima kasih. Aku ada acara nanti malam.”

“Ah, kau sudah berkenalan dengan seorang gadis rupanya ...”

“Hah, aku tidak ...”

“Sudah jangan bohong. Kita sudah bersahabat selama bertahun2, Liu. Aku tahu, ini akan seperti kasus Amy Lee lagi. Kau mulai berpacaran dan melupakanku. Baru setelah putus, kau ingat lagi padaku.”

“Aku nggak akan ...”

“Hahaha ... rileks men.” Adam tertawa sambil menepuk bahunya, “Aku hanya bercanda. Dan siapa gadis beruntung itu?”

Wajah Liu memerah, “Ah bukan ... aku hanya ingin menyambut tetangga baruku. Itu saja”

***

Hari sudah beranjak sore. Matahari mulai terbenam di lautan, membiaskan warna keemasan di permukaan ombak. Pemandangan seperti itu akan memukai siapapun, namun tidak sang kepala polisi. Ia masih sibuk memerintahkan anak buah mencari dengan teliti di antara karang2. Ia masih harus membuktikan bahwa Jeff The Killer telah mati.

Ia harus menemukan mayatnya.

“Apa kau benar2 sudah memastikan Jeff sudah mati?” Mr. Gardnier, kepala sekolah New Davenport High mendatanginya. “Aku tak bisa membiarkan murid2ku dalam bahaya. Jika Jeff belum mati ...”

“Jeff sudah mati!” jawab sang kepala polisi dengan tegas, “Dia jatuh ke karang ini. Aku sendiri melihatnya. Tak ada seorangpun yang bisa selamat jika ia jatuh dari sini.”

“Namun kau belum menemukan mayatnya kan?”

Sang kepala polisi menggeleng, “Mungkin mayatnya terbawa ke lautan. Mungkin kita tak akan bisa menemukannya.”

“Kau pernah dengar yang namanya angin laut, pak kepala polisi?” ejek Mr. Gardnier, “Angin laut selalu bertiup ke darat dan membawa mayatnya terdampar kembali ke pantai. Selalu begitu kejadiannya. Bahkan kita sering kan menemukan benda dari laut terhanyut hingga ke pantai? Percayalah, jika Jeff sudah mati, mayatnya akan tersangkut di bebatuan karang itu. Namun jika tidak ada, berarti ....”

“Jeff sudah mati,” kata sang kepala polisi, “Percayalah. Dia sudah mati!”

***

“Liu! Turunlah dan makan!” Paman Brandon berteriak dari arah dapur. Dengan enggan, Liu menuruni tangga untuk menemui paman dan bibinya. Semenjak kematian orang tua angkatnya, paman dan bibi Jeff-lah yang diberikan kuasa untuk merawat Liu dan menempati rumah peninggalan keluarganya. Namun sayangnya, paman dan bibi Jeff tidak memperlakukan Liu dengan baik.

“Duduklah dan makan.” dengan dingin Bibi Martha menyuruhnya duduk sambil mempersiapkan hidangan. Tubuh mereka berdua sangat kontras. Paman Brandon sangat kurus, sedangkan Bibi Martha sangat gemuk.

“Ikan asin lagi,” pikir Liu. Sementara paman dan bibinya memakan daging bacon yang lezat ... dari uang warisan kedua orang tuanya.

“Kurasa aku akan makan di atas.”

“Jangan kurang ajar seperti itu!” bentak Paman Brandon. “Kami orang tuamu sekarang dan kau harus menghormati kami. Sekarang turuti perintah kami dan duduk di sini!”

“Kalau begitu aku tidak usah makan malam saja!” Liu berbalik pergi dan meraih jaketnya. Ia lalu mengenakan sandalnya dan membuka pintu.

“Hei, kembali ke sini!” teriak Paman Brandon.

“Dasar berandalan! Nanti dia pasti akan menjadi kriminal, sama seperti Jeff. Lihat saja!” kata Bibi Martha sambil menyantap makanannya.

***

Liu mengetuk pintu. Seorang gadis membukakannya dan langsung tampak gembira ketika melihat wajah Liu.

“Liu, kau datang!” seberkas senyuman tersungging di bibir Tessa.

“Yah, rumahmu tepat berada di depan rumahku, jadi kurasa tak terlalu merepotkan untuk datang ke sini.” katanya sambil tertawa. “Hmmm ... dimana orang tuamu?”

“Oh, mereka sedang menjenguk kakakku di New Haven. Ayo, masuklah.”

“Kau yakin membiarkanku masuk ketika tak ada orang di rumah?”

“Jangan khawatir. Jika kau berusaha berbuat macam2, aku akan berteriak dan tetangga pasti segera berdatangan.” kata Tessa sambil tertawa.

Liu ikut tertawa, “Baiklah.”

Ia melangkahkan kakinya memasuki rumah. Rumah ini terasa harum. Seperti campuran bau harum maple dan cendana. Ia biasa mencium bau cendana ketika ia masih di Cina dan bau maple sangat khas Amerika. Jadi ia bisa mengenali keduanya, walaupun aromanya bercampur.

“Rumahmu sangat bagus. Jarang ada orang yang membiarkanku masuk ke rumah mereka. kau tahu, mereka takut karena aku adalah adik dari ...”

Liu tak meneruskannya. Terlalu sakit baginya untuk menyebutkan namanya.

“Maaf, apa yang tadi kau katakan?” Tessa melongokkan kepalanya dari dapur, “Aku tak mendengarnya.”

“Oh, tak apa-apa. Bukan hal penting. Jadi, kau sedang memasak?”

“Ya jika kau menyebut merebus pasta instan di dalam panci itu termasuk memasak.” Liu bisa mendengar tawa gadis itu dari balik dinding dapur. “Kau mau makan?”

“Oh, tidak. Terima kasih. Aku tak mau merepotkanmu. Aku sudah makan tadi.”

Gadis itu kembali tertawa, “Kau bohong. Aku bisa mendengar suara perutmu keroncongan dari sini.”

“Hahaha ... kurasa perutku memang tak bisa berbohong. Aku skip makan malam tadi karena tak begitu lapar. Omong2, kakakmu tinggal di luar kota?’ Liu melihat2 foto keluarga Tessa. Di salah satu foto tampak dia sedang bersama dengan seorang pemuda bertubuh jangkung dengan wajah masam.

“Ya, kakakku Billy kuliah di luar kota.”

“Kakakmu beruntung.” kata Liu, “Jika aku bisa, aku sudah pasti akan meninggalkan kota ini.”

“Jadi, dengan siapa kau tinggal sekarang?” tanya Tessa sambil membawa dua piring spaghetti yang masing hangat. Liu segera membantunya.

“Oh, ada paman dan bibiku. Mereka diwarisi rumah oleh mendiang orang tuaku. Mereka adalah orang yang sangat baik.”

“Paman dan bibimu?”

Liu menggeleng, “Orang tuaku. Mereka sangat baik. Mereka mengadopsiku sejak aku masih kecil.”

Tessa tersenyum, “Mereka kedengaran seperti orang yang baik. Ayo, makanlah!”

“Terima kasih. Jadi, mengapa kalian kembali lagi ke kota ini?

“Oh, pertama kuceritakan dulu mengapa kami pergi. Kakakku merasa trauma dengan semua kejadian di pestanya, jadi kami pindah selama beberapa waktu untuk menenangkan pikirannya. Kemudian kami menyewakan rumah ini dan setahun yang lalu kami memutuskan untuk menjual rumah ini. Tapi .... kurasa tak ada yang mau membeli rumah bekas terjadinya pembunuhan, jadi kami memutuskan untuk kembali menempati rumah ini.”

Sorry to hear that.” kata Liu.

It’s OK.” Tessa sibuk menggulung spaghettinya. Tiba2 dia melihat sesuatu di lengan atas Liu. Ia memakai kemeja berlengan pendek, jadi Tessa bisa melihatnya dengan jelas.

“Apa ... apa luka itu disebabkan juga oleh Jeff.”

Tessa melihat sayatan di lengan Liu.

“Ah, ini bukan apa2.” Liu buru2 menutupinya. “Hei, apa kau mendengarnya?” Liu menoleh. Terdengar suara sirine polisi melewati depan rumah. Cahaya sirine langsung melesat di jendela rumah Tessa.

“Ada apa ya? Sepertinya mereka menuju ke arah pantai.”

***

DUA JAM SEBELUMNYA

Peter memarkirkan kendaraannya di Devil’s Rock.

“Apa kau serius mengajakku ke sini?” kata Amy dengan ketakutan. “Ini kan tepat dimana Jeff melompat? Lagipula, sejak pagi tempat ini dipenuhi oleh polisi.”

“Yup, tapi Jeff sudah mati dan tempat ini adalah tempat terindah di kota ini. Polisi tentu takkan mencari mayat Jeff malam2, jadi mereka semua pasti sudah pulang. Ditambah lagi sejak kematian Jeff, tak ada yang mau pergi ke sini. Jadi, tempat sepi ini adalah spot paling sempurna untuk kencan kita.”

“Tapi, Peter! Bukankah itu justru alasan yang tepat bagi kita untuk menjauhi tempat ini?”

“Sudah kubilang tadi, Jeff sudah mati. Ia melompat dari tebing itu! Tak ada yang bisa selamat dari sana. Jadi kita aman, totally save! Nah, sekarang ceritakanlah ... bagaimana rasanya berpacaran dengan adik Jeff The Killer.”

“Huh,” keluh Amy, “Dia seorang loser. Andai saja aku tahu dia adik seorang kriminal mengerikan seperti Jeff, aku takkan mau kencan dengannya. Ingat padanya saja sudah membuatku ilfil. Kalau kau mau tahu rasanya bagaimana, kau kencan saja dengan dia.”

“Kalau saja dia adalah seorang gadis cantik seperti kamu, aku pasti sudah mengencaninya.”

“Ah, gombal!”

Tiba-tiba terdengar suara.

“Sreeek ... sreeeeek ....”

“Hei, kau dengar suara itu?’ bisik Amy.

“Itu suaranya seperti ... sial, ada yang menggores mobilku!” Peter segera keluar dari mobil. Amy menunggu di dalam dan mendengar Peter berseru kepada seseorang. Kemudian hanya tertinggal kesunyian. Tak ada suara apapun. Amy mencoba melihat melalui spion, namun terlalu gelap di luar. Ia tak bisa melihat apa-apa.

“Peter?” panggil Amy, “Peter, kau dimana!”

Masih tak terdengar tanda2 Peter.

“Peter, jika ini salah satu leluconmu, kita benar2 putus!”

Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang diseret.

“Sreeek ... sreeeeek ...”

“Peter?”

“AAAAAAAAAA!!” Amy menjerit ketika tubuh Peter terbanting ke kaca depan mobilnya. Tubuhnya berlumuran darah. Matanya membelalak dan ia mencoba membuka mulutnya, meminta tolong. Namun ia kemudian terjatuh ke atas tanah.

“Peter! Peter!” jerit Amy.

Tiba2 seutas tangan meraihnya dan mencoba menariknya ke luar mobil.

“Tidak! Tidak!!!” Amy menjerit dan berusaha meronta.

Amy menoleh hanya untuk melihat wajah putih yang menyeringai bak Joker.

“Tidurlah ... tidurlah yang nyenyak ...”

 

TO BE CONTINUED

Sabtu, 13 Desember 2014

THE LAST RESORT PART 06 – ORIGINAL SERIES

 

 

“Taka? Apa kalian benar-benar peduli dengan kematian pemuda menyedihkan itu?” Misaki tertawa, “Melihat satu saudaraku saja ia sudah histeris sampai hampir menjadi gila seperti itu. Dia jauh lebih lemah daripada perempuan yang baru saja mati itu, siapa namanya? Yuka?”

“Jangan sebut namanya dengan mulut kotormu itu!”

Miki berusaha mengeluarkan kekuatannya lagi, namun tak ada apapun yang terjadi.

Misaki tertawa kembali, “Kenapa? Tak tahu cara mengendalikan kekuatanmu? Oh nona manis, bagiku kau hanyalah bocah ingusan. Jika sejak awal kau sudah menyadari kemampuanmu, tentu saja teman-temanmu takkan mati konyol seperti itu, bukan?”

“Namun kami melihatmu mati, di resort!” seru Masa-kun.

“Aku tak bisa mati, Tampan.” Misaki menatap pemuda itu dengan matanya yang menyala, “Karena aku sudah pernah mati.”

“Kau adalah salah satu dari makhluk-makhluk itu.” Akhirnya Miki mengerti.

Misaki kembali tertawa, “Jangan samakan aku dengan makhluk-makhluk merayap yang menyedihkan itu. Aku jauh berbeda dengan mereka. Aku adalah yang pertama.”

“Kau adalah salah satu yang sempurna.” ujar Masa-kun.

“Ah, kau tahu juga.” kata Misaki, “Sekarang kalian tahu kan mengapa aku menjadi yang terkuat di antara mereka? Aku menjadi pemimpin mereka untuk menghukum warga desa ini, atas perlakuan nenek moyang mereka kepadaku.”

“Tapi mengapa? Aku tak mengerti!” seru Miki.

“Kurasa tak ada salahnya memuaskan rasa ingin tahu kalian. Toh sebentar lagi kalian juga akan binasa.” Misaki tersenyum, “Dahulu aku dan ibuku tinggal di gubuk ini, berdua saja. Ayahku sudah lama meninggal dan walaupun janda, ibuku tak pernah memohon belas kasihan orang lain. Ia selalu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kami. Aku ingat dulu sering membantu ibuku membawa kayu. Sesekali aku pergi ke pantai untuk bermain dan di sanalah semua itu terjadi.”

“Kau tenggelam?”

“Dewa pemilik laut meminta tumbal. Ia menarikku ke bawah. Beruntung saat itu aku memakai jimat pemberian ibuku.”

“Plasentamu.”

Misaki kembali tersenyum, “Aku terkesan, Tampan. Kau sepertinya tahu banyak tentang sejarah desa ini. Ya, aku memang mati saat itu, namun ibuku berhasil membangkitkanku kembali. Kau tahu, ibuku menyimpan rahasia bahwa ia menguasai sedikit ilmu sihir.”

“Penyihir yang tinggal tersembunyi di dalam hutan, itu semua masuk akal sekarang.”

“Ibuku bukan penyihir!” Misaki tampak marah, “Masyarakat selalu menghakiminya seperti itu, namun ia bukan penyihir! Ia hanya berusaha menyelamatkannya anaknya, seperti yang semua ibu lakukan. Namun ketika mereka melihatku, semua masih terlalu awal. Bentukku masih belum menyerupai manusia sehingga mereka langsung membenciku dan berusaha memisahkanku dengan ibuku ...”

“Karena kau tidak normal! Bukan kodratmu untuk kembali hidup setelah mati sekian lama!”

“Tak normal?” Misaki tertawa sambil menatap Miki, “Bagaimana dengan kau sendiri? Kau dengan kekuatanmu itu? Aku yakin orang-orang memandangmu dengan tatapan aneh, walaupun kau sekalipun tak pernah menyakiti mereka.”

Miki terdiam. Matanya nampak berkaca-kaca. Masa-kun merasa iba melihatnya. Ia tahu apa yang Misaki katakan mengena di hatinya.

“Mereka ... penduduk desa ... dibantu biksu-biksu itu ... mereka menaburkan garam, melemparkan kertas mantra, mengucapkan ayat-ayat kitab suci ... semua untuk memisahkan aku dari ibuku. Hal-hal itu memang bisa melukaiku, namun tak bisa membunuhku. Aku bersembunyi, menyempurnakan diriku, kemudian masuk kembali ke desa tanpa sedikitpun mereka curigai. Dengan sisa-sisa kekuatan kuil pertama ini, aku berhasil menciptakan kutukan. Apabila darah tertetes di hutan terkutuk ini, maka saudara-saudaraku akan bangkit, menuntut balas bagi keturunan mereka yang telah menyengsarakanku.”

“Darah?” Miki teringat, “Ya Tuhan, darah Taka saat kecelakaan itu ... ”

“Benar sekali, itulah yang membangkitkan mereka. Dan semakin banyak tumbal, maka semakin besar kekuatan kami.”

“Karena itu kau membunuh Taka dan yang lainnya ....”

“Bukan karena itu saja. Jika berita tentang kami tersebar keluar, maka kami takkan lagi aman. Orang-orang di desa ini takkan membuka aib mereka sendiri. Namun orang-orang pendatang seperti kalian, aku tak bisa membiarkan kalian hidup.”

“Jadi semua ini ... hanya demi pembalasan dendammu?”

“Mereka memisahkan aku dengan ibuku! Mereka pantas menerimanya!” jerit Misaki murka.

Tiba-tiba terdengar tawa Masa-kun. “Demi ibumu? Omong kosong! Kau tak pernah benar-benar mencintai ibumu! Aku tahu apa yang kau lakukan padanya, kau memakannya!”

“Tidak!” jeritan Misaki makin menjadi-jadi, “Itu bohong!”

“Aku tahu semua tentangmu, Misaki ... tentang orang pertama yang melakukan ritual itu, yakni ibumu, dan juga bagaimana dia mati! Kau membunuhnya!”

“Tidaaaaaaaak!” jeritan Misaki terdengar menyakitkan, “Aku terpaksa melakukannya! Jika tidak, aku akan kembali ke lautan yang dingin itu! Aku ... aku tidak mau lagi!”

“Kau tak pernah mencintai ibumu sedikitpun. Kau hanya peduli pada dirimu sendiri!”

“Diam kau! DIAM!” Misaki mengerahkan kekuatannya dan mencabut salah satu kayu pilar dari kuil itu. Tiba-tiba ia menerbangkannya ke arah dada Masa-kun dan menusuknya.

“TIDAAAAAK!!!” jerit Miki. Namun terlambat. Tubuh Masa-kun terbanting dengan pasak kayu tertancap di dadanya.

“Kau iblis!” teriak Miki sambil berlinang air mata melihat tubuh pemuda itu tergeletak tak bernyawa di lantai kuil.

Tiba-tiba tangan Misaki memanjang dan langsung mencekik leher Miki. Perempuan itu menampakkan wujud aslinya. Ia tertawa hingga mulutnya sobek hingga ke telinganya, memamerkan gigi-giginya taringnya yang runcing. Ia kini tampak tak jauh berbeda dengan makhluk-makhluk yang tadi mengejar mereka.

“Sekarang kita sudahi saja permainan ini! Matilah terbakar di dalam api ini!!! Hahahahaha!!!” Misaki berusaha menarik tubuh Miki ke dalam api yang membara di tengah kuil. Miki berusaha melawan, namun segala upayanya sia-sia. Ia sama sekali tak bisa menandingi kekuatan iblis itu.

“Tunggu!” seru seorang pemuda.

Miki tak percaya mendengar bisa suara itu lagi.

Misaki menoleh dengan marah.

“Kau? Bagaimana mungkin kau bisa hidup!”

Masa-kun berdiri dan menarik pasak kayu itu dari dadanya.

“Karena aku juga sudah mati.”

“Apa? Masa-kun ...” seru Miki tak percaya, “... kau juga ?”

“Aku tahu sekarang!” mata Misaki terbelalak, “Kau putra Ryuichi dan Makiko!”

***

 

Api di tengah kuil masih berkobar.

“Kau? Tapi bagaimana mungkin? Aku tak bisa merasakanmu ...” jerit Misaki dengan suara mengerikan. Suaranya tak lagi seperti anak-anak yang polos. Kini suaranya mirip seperti monster.

“Karena aku tidak sama dengan kalian!” kata Masa-kun. “Sekarang lepaskan dia!”

“Apapun kau ... kau takkan bisa mengalahkanku!”

Masa-kun mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya. Kotak kayu berukir yang tadi Miki lihat.

“Tapi aku punya ini!” Masa-kun langsung menunjukkannya di depan makhluk itu.

“Tidaaaak! Itu jimatku! Dari mana kau mendapatkannya???”

“Dari kedalaman lautan. Aku mengambilnya karena tahu hanya ini yang bisa membunuhmu. Jika jimat ini hancur, maka begitu juga kau!”

“Serahkan jimat itu! SERAHKAN!!!” makhluk itu melolong, mengeluarkan suara mengerikan yang hampir membuat telinga Miki pecah.

“Tangkap jika kau bisa!” Masa-kun langsung melemparkannya ke arah api. Makhluk itu menjerit dan berusaha menangkapnya, otomatis melepaskan Miki dari cengkeramannya. Namun ia gagal, peti itu keburu terbakar oleh api.

“TIDAAAAAAAK!!!” makhluk itu kembali mengeluarkan teriakan yang mengerikan. Tubuhnya seketika dilalap api, sama seperti yang terjadi dengan jimat itu.

Namun api yang membakar tubuh Misaki juga ikut membakar lantai kayu kuil itu. Api dengan cepat menjalar hingga ke pilar dan langit-langit.

“Masa!” jerit Miki ketakutan. “Kita harus keluar dari sini!”

“Tidak, aku tetap di sini!”

“Apa? Apa maksudmu? Kita harus pergi!”

“Miki, api ini menyucikan segala kekuatan gaib yang ada di tempat ini. Termasuk aku ...”

“Ta ... tapi kau akan ikut mati! Mengapa kau ingin mati lagi?”

“Miki, kau tak mengerti!” pemuda itu menggenggam tangan gadis itu. “Ketika aku mati, aku melihat cahaya .... sebuah cahaya yang membuatku merasa tentram dan damai. Cahaya itu menuntunku ke suatu tempat. Namun ketika ibuku melakukan ritual itu ... kegelapan tiba-tiba merenggutku. Aku tak bisa pergi ke tempat itu ... ke tempat dimana aku seharusnya berada . Tentu saja ritual ibuku gagal dan aku terjebak, selama bertahun-tahun, di dalam kegelapan itu . Namun kemudian kau menolongku ...”

“Kau ...” Mata Miki berkaca-kaca, “Kau anak yang tenggelam itu?”

“Ketika kau mencoba menyelamatkanku saat itu, aku merasakan kekuatanmu. Percayalah Miki, kau sendiri tak sadar betapa besar kekuatanmu ... betapa berharganya dirimu. Kekuatan ini memberiku wujud baru dan akupun tahu, bahwa itu misiku ... untuk membunuh makhluk yang terus meneror desa dan keluargaku .”

“Tapi sekarang ... kau sudah hidup kembali, bukan?” Miki mulai terisak, “Kau bisa bertemu lagi dengan ayahmu ... dan ....”

“Tidak.” Pemuda itu menggeleng, “Di sini bukan tempatku. Hanya inilah satu-satunya kesempatanku untuk akhirnya bisa pergi ke sana ... ke tempat dimana aku seharusnya berada bertahun-tahun lalu .”

Miki mulai menitikkan air mata.

“Maafkan aku.” ucap Masa-kun sambil menatap mata gadis itu dalam-dalam.

“Izinkan aku ikut denganmu!” kata Miki tiba-tiba.

Masa-kun merasa tersentuh dengan perkataannya, namun ia harus menolaknya.

“Tidak, Miki. Jalanmu masih panjang. Ada banyak hal yang belum kau lakukan. Lagipula, kau harus tetap hidup untuk melakukan sesuatu untukku.”

Masa-kun mengulurkan tangannya dan tiba-tiba sebuah cangkang kerang muncul. Cangkang yang pernah Miki pungut di pantai.

“Berikanlah ini pada ayahku. Hanya ini permintaan terakhirku.”

Miki menerima cangkang itu. Ia tak bisa mengatakan apapun lagi agar Masa-kun membatalkan keputusannya.

“Dulu aku tak mengerti mengapa aku harus mati, mengapa aku harus mengalami semua ini ...” Masa-kun mengusap air mata yang mengalir di pipi Miki. “Namun jika itu memang harus terjadi supaya aku bisa berjumpa denganmu, maka aku takkan sedikitpun menyesalinya.”

Masa-kun melepaskan tangannya dan berjalan ke arah kobaran api. Dia berbalik sejenak dan tersenyum ke arah Miki. Kemudian api menelan tubuhnya, tak menyisakan apapun kecuali kepedihan yang menyayat dalam hati Miki.

Ia menatap cangkang kerang spiral di tangannya dan mengusap air matanya.

Ia harus keluar dari sini. Ia harus tetap hidup!

Miki segera mencoba mencari jalan keluar, namun asap menutupi matanya. Ia tak tahu lagi dimana pintu yang tadi membawanya masuk.

Ia terjebak di sini, di tengah kobaran api.

Tiba-tiba ia melihat bayangan seseorang di tengah lautan api. Seorang gadis.

Yuka.

“Yuka? Kau masih hidup?” jerit Miki. Namun tidak, ia salah.

Yuka berdiri di tengah kobaran api, akan tetapi api tak mampu membakarnya. Tangannya yang transparan terangkat dan menunjuk ke satu arah.

Air mata Miki kembali meleleh. Bahkan Yuka kembali untuk menyelamatkannya.

Miki tak membuang waktu dan segera berlari ke arah yang ditunjukkan Yuka. Akhirnya ia melihat pintu keluar! Miki segera berlari keluar, namun ketika ia mencapai pintu, tiba-tiba sesuatu meraih kakinya dan iapun terjerembap di lantai kayu.

Miki mencoba bangun dan melihat apa yang menarik kakinya.

Misaki.

***

 

Ia belum mati.

Tubuhnya terbakar hebat dan terlihat bahwa ia mulai kembali ke wujudnya semula, menyerupai makhluk-makhluk yang tadi mengejarnya.

Kepalanya kini botak. Ia merangkak dengan kepayahan, dan jari-jarinya yang panjang mencengkeram kaki

“Kyu-ai ... kyu-ai!” ia terus melontarkan bunyi itu dari mulutnya yang sobek.

Tiba-tiba Miki melihat tubuh Misaki semakin menyusut. Tubuhnya semakin ciut dan tangannya makin memendek.

“Kyu-ai ...”

Tubuhnya mengalami degenerasi, pikir Miki. Akan terus begini hingga akhirnya tubuhnya habis, tak menyisakan apapun.

Namun makhluk itu masih mencengkeram kaki Miki dan menatap gadis itu.

Saat makhluk itu menyentuhnya, Miki merasa terhubung dengannya.

Akhirnya ia mengerti bahasa mereka. Ia akhirnya memahami apa arti kata yang terus mereka ucapkan.

“Kyu-ai ...”

“ ... “

“Ibu ...”

Miki bisa mendengarnya seakan makhluk itu berbicara dengan bahasa manusia.

“Ibu ...”

Miki sadar, makhluk itu mengira ia adalah ibunya. Tak hanya tubuhnya, namun pikiran dan ingatannya juga mengalami kemunduran.

“Ibu ... kumohon ... jangan tinggalkan aku sendirian lagi....”

“...aku takut ibu ....”

“...Ibu ...”

Miki hanya bisa menangis. Makhluk itu terus menyusut sampai di suatu titik dimana tangannya tak mampu lagi mencengkeram kaki Miki. Hingga akhirnya yang tersisa hanyalah gumpalan daging.

Tali pusar.

Miki berdiri dan segera keluar dari kuil yang terbakar itu. Ia melihat dari luar ketika gubuk itu akhirnya ambruk dan sisa-sisa bara yang masih menyala memangsa tumpukan kayu dimana kuil itu pernah berdiri.

Semuanya kini sudah berakhir.

***

Pagi telah menjelang dan Miki kembali ke desa. Para biksu adalah yang pertama datang, berdoa untuk menyucikan tempat ini, juga bagi mereka yang terbunuh dalam pertempuran kemarin malam.

Polisi kemudian datang. Miki pertama merasa bingung, bagaimana ia menjelaskan mayat teman-temannya. Mereka takkan mempercayai sedikitpun apa yang ia katakan. Namun ternyata ia tak perlu mengucapkan sepatah katapun.

Para polisi itu telah mengerti apa yang terjadi. Ini bukan yang pertama kalinya.

Miki melihat sesuatu tergeletak di atas tanah. Kamera milik Seiji. Gadis itu mengangkatnya dan mulai memutar kembali rekaman dalam kamera video itu dari awal.

Ia hampir menangis melihat teman-temannya di sana. Taka, Seiji, Shun, Haruna, Yuka, dan dirinya. Mereka semua bergembira sepanjang perjalanan menuju ke pantai dan bernyanyi bersama.

Kini hanya ia yang masih hidup. Yang lainnya telah meninggal.

Miki memutuskan untuk menyimpan kamera video itu dan meneruskan misinya.

Miki berjalan di depan resort dan melihat seorang pria paruh baya. Wajahnya tampak lesu melihat rumahnya. Ia tampak putus asa.

Miki langsung tahu siapa dia.

“Pak Ryuichi?”

Pria itu menoleh.

“Ya?”

Miki mengulurkan cangkang itu. Mata pria itu langsung berbinar.

“Masahiro ingin Anda tahu bahwa ia selalu mencintai Anda.”

***

“Ayah? Apa ini?” tanya Masahiro.

“Oh, ini koleksi kerang Ayah, Sayang!” Ryuichi mengelus kepala putranya yang berumur 8 tahun.

“Kenapa ayah tampak sedih? Aku dengar ayah dan ibu bertengkar. Ada apa?”

“Oh, bukan apa-apa.” Ryuichi mengusap air matanya, “Hanya kondisi desa kita sekarang sedang sulit. Ikan semakin sulit didapat dan yah .... Ayah sedang mencoba bisnis baru. Mungkin Ayah akan mengubah rumah ini menjadi sebuah hotel, namun ibumu kurang setuju.”

“Lalu kerang-kerang ini untuk apa Yah?”

“Ayah akan mendekorasi lorong ini menjadi tempat penerimaan tamu. Kamu bantu Ayah ya, tapi sayang sekali...”

“Kenapa Ayah?” Masahiro yang sedang bermain dengan cangkang-cangkang itu menatap wajah ayahnya.

“Cangkangnya masih kurang. Coba ayah cari lagi di dalam.”

Ryuichi berbalik dan masuk ke ruangan, masih berusaha menyembunyikan raut muka kesedihannya.

“Kerang,” Masahiro berbicara pada salah satu kerang yang dipegangnya, “Aku tak mau melihat ayah sedih lagi. Aku akan ke pantai untuk mencari teman untuk kalian.”

Masahiro kecil tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya menyelinap pergi dari rumahnya dan tak pernah kembali lagi

***

Para biksu itu masih berdoa di dalam kuil. Tiba-tiba sang kepala biksu menghentikan alunan doanya.

Ada seseorang yang datang. Siapapun itu, ia memiliki kekuatan yang teramat dashyat.

Pintu kuil tergeser membuka. Sang kepala biksu menoleh.

“Iblis yang mengaku sebagai dewa laut dan memangsa anak-anak kecil itu...” kata Miki di ambang pintu, “Kita harus membasminya!”

***

Shun sudah menyiapkan segalanya. Ia sudah menaruh grimoire itu di tempat dimana orang tuanya dengan mudah akan menemukannya. Ia juga membawa tali pusarnya bersamanya dan menjadikannya jimat. Untunglah selama ini orang tuanya menyimpannya dengan baik.

Kini rencananya akan berjalan. Ia akan membalas dendam pada orang-orang yang telah menyiksanya. Ia akan membalas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.

Ia akan membalas dendam pada orang-orang yang membuatnya begitu putus asa hingga ia hampir bunuh diri.

Shun berjalan ke dalam universitas, dimana para mahasiswa baru saja menyelesaikan kelas mereka dan berbaur di dalam lobby.

Shun mengeluarkan senapannya.

***

 

EPILOG

“Astaga” wajah pemuda yang berada di dalam rumah hantu itu menjadi pucat, “Aku ingat cerita itu. Penembakan massal di sebuah universitas di Tokyo. Polisi bilang pelakunya yang berinisal S menembak dirinya sendiri setelah menghabisi puluhan korban. Apa ... apa itu berarti kini ia bangkit kembali?”

Gadis itu mengangkat bahunya, “Entahlah. Aku tak pernah berjumpa lagi dengannya.” Ia akhrnya mengakhiri ceritanya, cerita mengenai resort yang ia kunjungi dan berakhir dengan kematian teman-temannya.

“Benar-benar cerita yang menyeramkan, Nona Miki.” kata pacar sang pemuda itu. “Saya benar-benar tak percaya kejadian semengerikan itu benar-benar terjadi pada anda.”

“Miki?” gadis itu terkekeh. Tawanya terdengar polos dan kekanak-kanakan, namun ada sesuatu di dalam suaranya.

Sesuatu yang membuat sepasang kekasih itu bergidik ngeri.

“Kau salah, aku bukan Miki.”

Mata wanita itu berubah menjadi putih, dengan pupil matanya menyusut menjadi sebuah titik di tengah bola matanya.

“Aku Haruna.”

 

THE END

Sabtu, 06 Desember 2014

THE LAST RESORT PART 05 – ORIGINAL SERIES

 

 

Shun mengubur kembali mayat gadis yang ditabraknya dengan tanah.

“Maafkan aku, Haruna.” Air mata menetes di pipinya, “Aku sungguh-sungguh tak sengaja ... namun jangan khawatir. Aku sudah mengetahui rahasia mereka. Aku akan membangkitkanmu kembali. Aku berjanji!”

Wajah cantik Haruna serasa bersinar memantulkan cahaya rembulan.

“Seharusnya aku mengajakmu tadi. namun aku tak percaya pada kalian.” Shun mengelus pipi gadis yang sudah kaku itu. Rasanya dingin namun halus, seperti porselen. “Salah satu dari kalian adalah pembunuh psikopat. Aku tak tahu yang mana, namun sebaiknya aku tak mengambil resiko. Kau harus tahu, Haruna ... bukan aku yang membunuh Taka ...”

“Kyu-ai ... Kyu-ai ...”

Shun menoleh dan melihat makhluk-makhluk itu mengintip melalui pepohonan.

“Sial! Maaf Haruna, aku akan kembali lagi untukmu!” Shun bergegas masuk ke dalam mobil.

***

Dengan bersusah payah, Miki berhasil membawa Yuka kabur dari makhluk-makhluk itu. Mereka harus bersembunyi, namun tak ada tempat yang aman.

Kuil itu, Miki teringat. Jika ada kuil itu, mereka takkan masuk.

“Ayo, gunakan kekuatanmu, Miki!” bisiknya dalam batin, “Konsentrasi! Ah, di sana!”

“Ayo, Yuka!” ajak Miki, “Kita akan aman di rumah itu!”

Yuka dengan pasrah mengikutinya.

“Apa kau yakin, Miki? Bagaimana dengan Shun, Haruna, dan Masa-kun?”

Miki menatap Yuka dengan sedih, terutama ketika nama Masa-kun disebut. “Kita tak bisa melakukan apapun untuk mereka, Yuka. Yang bisa kita lakukan adalah bersembunyi di sini hingga fajar. Aku yakin cahaya akan mengusir makhluk-makhluk mengerikan itu.”

Miki dan Yuka bersembunyi di dalam kegelapan, di balik dinding geser yang terbuat dari kertas.

Miki melubangi kertas di belakangnya dengan jarinya. Ia ingin melihat keadaan di luar.

Kosong. Hanya ada kegelapan malam di sana.

Miki tahu mereka aman di sini.

“Miki, kau berasal dari Kyoto, bukan?” tanya Yuka tiba-tiba. Sebelum itu, kesunyian telah menelan malam. Tak ada suara sedikitpun, bahkan jangkrik yang biasanya bernyanyi.

“Ya, kenapa memang?” Miki mengalihkan pandangannya dan menatap gadis itu. Mukanya sembab oleh air mata.

“Aku tak pernah pergi jauh dari Tokyo seumur hidupku.” Yuka menatap Miki dengan wajah sendu, “Ada kuil yang sangat indah bukan di sana, di Kyoto?”

“Tak hanya kuil,” Miki tersenyum mengingat kota asalnya, “Ada istana, taman Jepang, danau ...”

“Bisakah kita pergi ke sana jika kita keluar dari sini?”

“Tentu saja.” Miki mengangguk.

“Aku ingin mengunjungi kuil itu. Aku tak pernah percaya Tuhan, namun setelah semua ini ...” Yuka menunduk sebentar, lalu kembali menatap Miki. Matanya berkaca-kaca, hampir menitikkan air mata. “Kita akan mengunjungi kuil itu bersama-sama ya?”

“Ya, dan kita juga akan berpiknik di tepi danau sambil menikmati musim gugur yang indah. Dan siapa tahu kita bisa bertemu cowok-cowok di sana”

Yuka tertawa, “Itu kedengarannya asyik.”

Namun tawa mereka terhenti ketika mereka menyadari ada suara di belakang mereka.

“Ssssst ... kau dengar itu?” bisik Miki.

Terdengar suara pelan, namun semakin lama semakin dekat.

Suara napas yang berat.

Miki dan Yuka tahu benar, itu bukanlah napas manusia.

“Huuuuuuuuuuuh ... huuuuuuuuuuuuuh ...”

Miki dan Yuka serta merta menutup mulut mereka. Mereka tahu makhluk itu tak bisa masuk, namun bayangan bahwa makhluk itu hanya beberapa inci di belakang mereka membuat mereka takut.

Huuuuuuuuuuuh ... huuuuuuuuuuuuuuuh ...”

Miki merasakan makhluk itu bergerak, bahkan menyentuhkan jarinya ke dinding kertas di belakangnya.

Ia menyentuh tepat di punggung Miki.

Dan bernapas tepat di belakang gadis itu.

“Huuuuuuuuuuuuuuuu .... huuuuuuuuuuuuuuh ....”

Detak jantung Miki terasa berhenti.

Tiba-tiba suara napas itu menghilang.

Miki tak tahu apakah makhluk itu masih ada di belakang mereka atau tidak.

Suasana kembali sunyi.

Hingga suara seorang perempuan memecah keheningan.

“Yuka! Miki!”

“Ha ...” Yuka hendak memanggil, namun Miki segera menutup mulut Yuka.

“Ssssst!” bisiknya sambil menempelkan salah satu jarinya ke bibirnya.

“Ta ... tapi itu Haruna!” bisik Yuka.

Miki menggeleng dengan cepat, “Bukan ... dengarkan lagi!”

“Miki ... Haruna ... dimana kalian?”

Sama sekali tak ada intonasi dalam suara itu. Suaranya datar, seolah-olah diucapkan oleh robot.

“Tolong aku ... rasanya sakit sekali ...”

Yuka mulai menangis begitu tahu, apapun itu, ia bukanlah Haruna.

“Keluarlah ... Miki, Yuka ...”

Miki menoleh. Ia sadar ada sesuatu yang tengah memperhatikannya.

Di lubang di dinding kertas yang ia buat, Miki melihatnya ...

Sebuah bola mata tengah mengamati mereka berdua dari luar.

***

Selama sedetik, tak ada setetespun suara.

Bahkan Miki dapat mendengar suara detak jantungnya sendiri.

Apakah makhluk itu telah pergi?

Miki memejamkan mata, tak ingin melihat bola mata itu. Namun ia tergoda untuk mencari tahu, mengapa suasana begitu sunyi.

Miki membuka matanya dan ....

“GREEEEEEEEEEK!!!”

Tiba-tiba dinding di belakang mereka bergeser. Kedua gadis itu menjerit.

“Miki! Yuka! Kalian baik-baik saja?”

Miki mengenal dengan baik suara itu.

“Masa-kun?” Miki langsung berbalik dan memeluknya, “Kau selamat?”

“Ya, aku berhasil meloloskan diri. Ayo cepat pergi dari sini, aku menemukan kendaraan di luar!”

***

“Kau yakin kita bisa meloloskan diri dengan ini?” Yuka menatap dengan tidak yakin sepeda motor di depannya.

“Ya, kita bisa menaikinya bertiga. Kita harus mencoba, daripada terjebak di desa ini.”

“Kalian sebaiknya pergi terlebih dahulu.” kata Miki, “Lalu kalian bisa kembali menjemputku.”

“Tidak, Miki!” Yuka tak setuju, “Kami takkan meninggalkanmu di sini!”

“Ya, dia benar.” kata Masa-kun, “Kita akan pergi dari sini bersama-sama.”

“Tapi aku aman di kuil itu ...”

“Jangan sebut-sebut nama itu lagi!” Masa-kun tampak marah, “Tempat itu tidak memberikanmu perlindungan. Karena tempat itulah seluruh tempat ini dikutuk! Tak ada yang lain selain iblis yang bersemayam di sana. Kau tahu kenapa makhluk-makhluk itu tak mau masuk? Karena ada kekuatan yang lebih jahat bergentayangan di sana. Berlindung di sana sama saja menyerahkan dirimu pada setan!”

Dengan enggan, akhirnya Miki menuruti saran Masa-kun.

Pemuda itu tampak menyimpan sesuatu di dalam saku jaketnya. Seperti sebuah kotak kayu kecil yang berukir. Entah apa isinya, namun Masa-kun tampak ingin menjaganya dengan baik.

Mereka berdua membonceng pemuda itu dan ketika ia mulai menyalakan mesin, Miki kembali merasa gugup.

Apa mereka akan keluar dengan selamat dari tempat ini?

Motor itu melaju dan Miki segera menyadari makhluk-makhluk itu mengikuti mereka. Beberapa berlari dengan keempat kaki mereka, namun mereka tetap tak bisa mengikuti kecepatan motor yang dikendarai Masa-kun. Makhluk-makhluk yang terbang pun hanya bisa berputar-putar di atas mereka.

Namun mereka bertiga tak menduga, masih ada satu jenis makhluk lagi.

Makhluk yang muncul dari dalam tanah.

Salah satu dari makhluk itu tiba-tiba keluar dari dalam tanah dan mencengkeram roda sepeda motor yang mereka tumpangi ...

“KYAAAAAAA!!!!”

“BRAAAAAAAAAAAK!!!!”

Dengan mata berkunang-kunang, Miki masih menyadari makhluk-makhluk itu mengelilingi mereka.

Ia kini terbaring di atas tanah. Sekujur tubuhnya terasa nyeri, namun ia harus terus bergerak.

“Yuka?” Miki segera teringat akan sahabatnya itu dan mencoba mencarinya. Ia menemukannya tergeletak di bawah pohon yang mereka tabrak.

“Yuka! Yukaaaaa ...”

Miki mencoba menggoncang-goncangkan tubuh gadis itu, namun ia hanya bergeming. Kepalanya bersimbah darah. Miki tahu kenyataannya, namun ia menolak menerimanya.

“Yukaaaaa ... bangunlah! Bangun!”

“Miki!” Masa-kun bangkit dengan kesakitan dan menghampirinya. Ia menaruh tangannya di atas bahu gadis itu, “Dia sudah meninggal. Kau harus merelakannya!”

“Tidaaaak” tanpa sadar air mata meleleh di pipi gadis itu, “Aku sudah berjanji akan mengajaknya ke kuil. Aku harus menepatinya ...”

“Miki ...”

“Yukaaaaa ... kumohon bangunlah! Kita sudah berjanji akan pergi ke danau bersama-sama ...”

“Miki, kumohon! Kita harus pergi!” Masa-kun melihat makhluk-makhluk itu sudah mengepung mereka. Dari pepohonan, dari udara, berapa bahkan muncul dari dalam tanah bak bangkit dari kubur.

Kini sudah tak ada lagi jalan keluar.

“Kyu-ai! Kyu-ai! Kyu-ai!” suara makhluk-makhluk itu makin ramai.

“Diamlah kalian semua!” rasa duka Miki kini berubah menjadi amarah. Ia muak mendengar suara makhluk-makhluk itu.

“KALIAN SEMUA DIAAAAAAAAAM!!!!”

Tenaga yang sangat hebat tiba-tiba keluar dari tubuh Miki, menghantam makhluk-makhluk itu. Beberapa ketakutan dan kembali menggali ke tanah. Makhluk-makhluk yang berada di udara langsung berjatuhan dengan tubuh terpotong-potong setelah terkena energi yang dilepaskan Miki. Makhluk-makhluk yang berada di atas tanah segera merangkak menjauh meninggalkan mereka.

Miki menoleh dan segera menyesal telah kehilangan kendali.

Dilihatnya Masa-Kun duduk terpaku di atas tanah. Wajahnya tampak tergores dan tangannya memegangi bahunya yang berdarah.

Miki juga ikut melukai Masa-kun.

“Masa ... maafkan aku ...”

Masa-kun hanya tersenyum, “Tak apa. Aku kaget kau ternyata memiliki kekuatan sebesar ini. Ayolah, kita harus segera pergi dari sini.”

Tiba-tiba mereka melihat sesosok bayangan ... seorang wanita berkimono putih tampak berjalan dari kejauhan, meniti langkahnya menuju ke dalam hutan.

“Tidak, kita tidak akan kabur lagi.” Peristiwa tadi telah membuat gadis itu memperoleh kepercayaan diri, “Kita akan menyelesaikan masalah ini hingga ke akar-akarnya.”

Miki mengajak Masa-kun mengikuti wanita berpakaian kimono itu. Mereka tak bisa melihat wajahnya, namun mereka tahu ia-lah yang bertanggung jawab atas semua ini.

Merekapun menyadari mereka tengah menaiki bukit untuk menuju ke kuil di tengah hutan, tak jauh di lokasi dimana mobil mereka mengalami kecelakaan.

Wanita berkimono itu masuk ke dalam kuil; pondok bobrok yang berada di puncak bukit itu.

Masa-kun dan Miki mengikuti wanita itu. Mereka menutup hidung mereka untuk menghindari bau busuk yang tercium di udara.

Ia membuka segel dan menggeser pintu itu. Tampak kobaran api yang amat besar di tengah ruangan.

Wanita itu tertawa. Ia telah lama menyadari kehadiran mereka berdua.

“Kalian rupanya lebih kuat daripada yang kuperkirakan” katanya dengan suara polos dan kekanak-kanakan.

Suara wanita itu membuat mereka berdua terkejut.

“Ternyata kau selama ini. Kau juga yang telah membunuh Taka!” ujar Miki.

Wanita itu menoleh dan membuka tabir identitas aslinya.

Misaki-chan.

 

TO BE CONTINUED