Sabtu, 28 Juni 2014

RESORT PART 11

 

“Shoji!”

Kami bertiga terpaku.

Kemudian kami mendengarnya kembali. Suara itu berasal tepat dari luar kuil.

“Shoji!”

Kami sadar benar suara siapa itu.

Suara itu sudah tak asing lagi bagi kami.

Itu suara Misaki.

“Shoji, aku membawakanmu onigiri.”

Walaupun suara itu jelas milik Misaki, namun sama sekali tidak ada intonasi dalam suara itu. Hanya suara yang datar, seolah-olah diucapkan oleh boneka.

“Shoji!”

Aku merasakan genggaman tangan Shoji semakin erat. Tentu saja ia tak menjawabnya dan suara itu terus berlanjut.

“Shoji.”

“Selamat datang!”

“Aku membawakanmu onigiri.”

“Shoji.”

“Selamat datang!”

“Aku membawakanmu onigiri.”

Ia terus-menerus mengulanginya, jelas sekali tak terdengar normal.

Aku mulai ketakutan. Itu suara Misaki. Tapi apa benar itu Misaki?

Biksu itu pernah mengatakan bahwa takkan ada seseorangpun yang akan mengunjungi kami. Ditambah lagi cara berbicara Misaki yang seolah-olah robot, aku tahu bukan ia yang berada di luar pintu kuil saat itu.

Takumi kembali dan mengenggam tanganku amat erat. Akupun tahu bahwa ia juga mendengar suara itu.

Suara itu kembali terdengar dari arah pintu kuil.

“Selamat datang!”

“Shoji!”

“Aku membawakanmu onigiri!”

Tiba-tiba pintu mulai bergetar.

Sesuatu yang ada di luar itu mencoba masuk! Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila makhluk itu berhasil masuk.

Aku ingin kabur secepat mungkin dari sini. Biksu itu berkata ia berada di kuil utama. Namun dimana kuil utama? Apa kuil besar yang ada di bawah itu? Bisakah kami mencapainya? Lalu bagaimana jika kami kabur dan tak menyelesaikan ritual ini? Apa ia akan terus menghantui kami? Sial!

Terdengar suara hantaman yang keras dari arah pintu. Bila tadi ia hanya menggerak-gerakkannya saja, kini kurasa ia menghantamkan tubuhnya ke arah pintu. Ia masih membuat suara-suara monoton yang sama seperti suara Misaki. Ia kemudian berhenti dan terdengar berjalan mengelilingi kuil, sambil terus menghantam-hantamkan tubuhnya ke dinding di sepanjang perjalanannya.

Ia tak bisa masuk, aku mencoba menenangkan diriku sendiri. Ia tak bisa masuk.

Kemudian aku menyadari sesuatu yang menakutkan.

Di dinding dekat dimana kami berada, terdapat sebuah retakan, celah dimana papan-papan kayu bertemu. Dan ia bergerak makin dekat dengan dinding itu.

Bagaimana jika ia mengintip ke dalam melalui celah itu? Bagaimana jika ia melihat kami di dalam sini?

Aku tak mau menunggu hingga hal itu terjadi. Aku kemudian menarik kedua temanku ke tengah ruangan. Kami bergerak perlahan namun pasti.

Jantungku berdetak sangat kencang saat itu.

Kemudian tanpa sadar aku menoleh ke retakan di dinding itu. Akhirnya aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.

Ia sedang mengintip melalui celah itu.

TO BE CONTINUED

Sabtu, 21 Juni 2014

RESORT PART 10

 

Aku menatap Shoji. Sangat sukar melihat wajahnya saat suasana yang mulai remang-remang seperti ini, namun kurasa ia tak mendengarnya.

Dapatkah kalian mendengarnya? Apa hanya aku yang bisa? Ataukah ini hanya imajinasiku saja?

Pikiranku berkecamuk. Mengetahui betapa gugupnya aku, Shoji mulai melihat sekeliling. Sangat susah untuk kembali tenang ketika kami mulai merasa takut seperti ini.

Mata Shoji tiba-tiba terfokus pada suatu titik. Ia melihat tepat ke arah belakangku. Matanya tiba-tiba membelalak.

Takumi juga menyadari hal ini. Ia mencoba melihat ke arah yang sedang dilihat Shoji, namun nampaknya ia tak melihat apapun.

Aku terlalu takut untuk menoleh.

Namun aku masih mendengar suara napas itu. Aku bahkan bisa mengatakan suara itu berasal dari belakangku. Ia sama sekali tak bergerak, hanya bernapas.

“.......huuuuuuh ... huuuuuuuuuh ...”

Aku semakin membeku ketika menyadari ada suara lain dari luar. Seperti suara sesuatu sedang diseret di tanah di luar kuil. Takumi menyadarinya dan langsung mengenggam tanganku.

Apapun itu, ia hanya berjalan mengelilingi kuil. Dan suara lain yang belum pernah kudengar sebelumnya mengikutinya.

“Kyu-ai ... Kyu-ai ...”

Walaupun tak dapat melihatnya, tapi aku tahu suara itu secara perlahan bergerak mengelilingi kuil ini.

Aku bisa merasakan detak jantung Takumi. Aku tak tahu apakah Shoji mendengarnya juga, namun ia tampak sangat tegang.

Tak ada dari kami bergerak sedikitpun.

Aku menutup mataku dan mencoba menutup telingaku. Aku hanya ingin melarikan diri dari rasa takut ini dan dalam hati berdoa agar “sesuatu” itu segera lenyap. Aku tak tahu berapa lama waktu berjalan, namun rasanya seperti lama sekali. Ketika aku membuka mataku dan melihat ke sekeliling, suasana dalam kuil gelap gulita dan aku tak mampu melihat apapun.

Namun suara itu telah berhenti.

Aku tak bisa mengetahui apakah ia sudah benar-benar pergi ataukah ia masih menunggu di luar, jadi aku tetap mencoba tak bergerak sedikitpun. Namun kegelapan hanya membuat suasana malam ini semakin menyeramkan.

Tak peduli berapa lama aku mencoba membiasakan mataku, aku tetap tak bisa melihat apapun. Aku bahkan tak tahu apakah Takumi dan Shoji baik-baik atau tidak. Namun Takumi masih mengenggam tanganku dengan erat, jadi paling tidak aku tahu ia masih ada di sini.

Aku mulai mengkhawatirkan Shoji. Tadi jelas-jelas ia melihat sesuatu yang membuatnya ketakutan setengah mati. Aku mencoba mencarinya dalam kegelapan, namun aku tak bisa melihat apapun.

Aku menarik tangan Takumi, mengajaknya berjalan pelan menuju tempat dimana aku terakhir melihat Shoji. Aku bergerak sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara.

Suasana sangat gelap saat itu. Jika salah satu dari kami panik dan menjerit, maka selesailah sudah.

Aku kemudian meluruskan tangan kananku, mencoba meraih Shoji dimana ia tadi berada. Tanganku meraih sesuatu yang keras dan dingin, hampir membuatku melompat ketakutan. Namun kurasa itu hanya dinding.

Aneh. Shoji tadi ada di sini, namun sekarang ia tak ada.

Aku semakin cemas. Aku mulai berjalan menyusuri dinding hingga aku mencapai sisi lain ruangan itu.

Kami kehilangan dia. Aku ingin menangis dan berteriak, “Dimana kamu Shoji?” namun itu tak mungkin. Aku tak tahu lagi harus bagaimana, jadi aku hanya diam di sana. Takumi tiba-tiba bergerak dan gantian mengarahkanku ke tempat lain.

Pertama, ia mengajakku kembali menyusuri dinding dan kemudian berputar di pojok ruangan. Tiba-tiba saja ia berhenti dan menarik tanganku ke bawah. Aku menyentuh sesuatu yang hangat.

Itu terasa seperti tubuh seseorang yang sedang gemetar. Akhirnya kami menemukan Shoji.

Apa ini benar dia, pikirku. Kemudian aku juga mulai meragukan apa yang memegang tanganku ini benar Takumi.

Dikelilingi kegelapan yang teramat pekat, aku mencurigai segala sesuatu. Aku tetap diam dan ketika Takumi menarik tanganku lagi, akupun mengikutinya.

Kemudian aku melihat cahaya yang amat lemah. Sinar bulan sepertinya menyusup melalui celah di dinding dan membawa sedikit penerangan di dalam kuil ini. Takumi ternyata membawa kami ke arah cahaya ini.

Ketika melihat cahaya tersebut, aku merasa seperti diselamatkan. Setelah semua pengalaman ini selesai, aku sempat berterima kasih pada Takumi atas tindakannya itu dan inilah jawabannya.

“Aku tak melihat ataupun mendengar apapun. Aku memang mendengar ada suara seperti sesuatu diseret di luar. Karena itu, aku merasa lebih mampu melakukan sesuatu untuk kalian, sebab sepertinya hanya aku yang tak bisa merasakan keberadaan makhluk itu saat itu.” Dan sejak mendengar jawabannya itu, aku merasa lebih menaruh hormat kepadanya.

Akhirnya di bawah cahaya rembulan, aku bisa melihat wajah Takumi dan Shoji ditutupi keringat dan air mata. Aku penasaran apakah mereka melihat atau mendengar sesuatu, namun tentu saja saat itu aku tak bisa bertanya pada mereka.

Malam ini terasa sangat senyap. Kami hanya mendengar suara belalang bersahutan dari kejauhan.

Kami duduk melingkar sambil berpegangan tangan. Kami merasa lebih aman dalam posisi ini. Selain itu, kami bisa melihat wajah kami satu sama lain. Entah mengapa, ini membuat kami merasa lebih tenang.

Beberapa saat kemudian, hal yang tak dapat dihindarkan pun terjadi.

Takumi mengambil kantong yang diberikan sang biksu kepada kami kemudian pergi sejenak dari kami untuk melakukan urusannya.

Ruangan itu sangat sunyi, kecuali suara tetesan urine Takumi saat ia kencing. Suara itu bagi kami sangat konyol sehingga aku dan Shoji tersenyum.

Dan saat itulah suara itu muncul.

“Shoji!”

TO BE CONTINUED

Minggu, 15 Juni 2014

RESORT PART 09

 

Terasa sangat dingin di dalam kuil. Aku khawatir dengan syarat tak boleh makan dan minum, namun aku merasa percaya diri kami bisa bertahan untuk malam ini.

Bangunan itu sendiri sudah amat tua dan banyak celah-celah di dinding dimana papan-papan kayu bertemu. Kuil juga amat kecil.

Karena masih siang, aku masih dapat melihat wajah Takumi dan Shoji lewat cahaya yang masuk melalui celah-celah di dinding kayu. Ini pertama kalinya kami tidak saling berbicara meskipun kami berada sangat dekat satu sama lain.

Aku mengangguk untuk mengatakan, “Segalanya akan baik-baik saja.” Dan mereka mengangguk balik.

Setelah beberapa lama, kami berhenti saling menatap satu sama lain dan berakhir saling membelakangi. Frustasi pada kenyataan kami tak boleh saling berbicara, waktu berjalan sangat lambat. Kami tak mengetahui berapa lama kami di sini atau jam berapa sekarang. Yang dapat kami lakukan hanya duduk di sini dan menunggu dalam kebingungan.

Kami serasa menunggu sangat lama, namun masih terang di luar sana. Takumi mulai mengeluarkan suara. Heran dengan apa yang ia lakukan, aku menoleh untuk menyuruhnya diam. Ternyata ia memegang sebuah pena dan menghadapkan seutas kertas ke arah kami.

Ia tak mengindahkan apa yang dikatakan sang biksu dan membawa pena ke dalam. Kertas yang ia tunjukkan kepada kami adalah bungkus permen karet. Mungkin benda itu ada di sakunya selama ini.

Apa yang kau lakukan?

Aku memikirkannya beberapa saat. Biksu itu memang hanya melarang kami berbicara, bukan menulis, jadi sepertinya ini tak ada salahnya. Bagaimanapun aku merasa lega kami masih bisa berkomunikasi.

Aku membaca apa yang ditulis Takumi di kertas itu.

“Apa kalian baik-baik saja?”

Aku mengambil pena itu dan menulis sekecil mungkin,

“Aku baik-baik saja. Shoji?”

Aku memberikan kertas itu padanya dan ia menulis, “Aku baik-baik saja juga. Aku sudah tak mampu lagi melihat mereka.”

Ia kemudian mengembalikan kertas dan pena itu pada Takumi. Kami kemudian terus menggunakannya untuk berkomunikasi satu sama lain.

“Aku masih punya 4 lagi bungkus permen karet,” Takumi menulis, “Semoga ini cukup. Tulislah sekecil mungkin.”

“OK” aku setuju, “Kita tak akan bisa melakukannya saat matahari terbenam, jadi ayo kita menulis selagi bisa.”

“Apa kalian tahu jam berapa ini?” Takumi menulis.

“Tidak.” Aku menggeleng.

“Sekitar jam 5?” Shoji menebak.

“Kita masuk ke sini sekitar jam 1.” tulis Takumi.

“Jadi kita di sini baru empat jam” aku menarik kesimpulan.

“Ini akan menjadi malam yang panjang.” Dengan menulis itu, Takumi menghabiskan kertas pertamanya.

“Tulisanmu terlalu besar, Yuuki.” Tulisnya pada kertas berikutnya. Aku membuat gesture minta maaf dan ia memberikan pena serta kertasnya kepadaku.

“Aku lapar.” Aku menyerahkan kertas itu pada Shoji, namun ia langsung memberikannya pada Takumi.

“Aku juga.” balas Takumi. Ini aneh, pikirku. Saat kami tidak bisa saling berbicara tadi, ada banyak hal yang ingin kusampaikan. Namun begitu kami menemukan cara untuk berkomunikasi, kami justru tak bicara banyak. Namun ada satu hal yang ingin kuungkapkan sebelum matahari terbenam.

“Apapun yang terjadi, kita akan melewati ini semua!”

“Tentu saja.” tulis Shoji.

“Bagaimana jika aku tiba-tiba ingin berteriak?” tanya Takumi.

“Sumpalkan sesuatu ke dalam mulutmu.” saranku.

“Seperti apa?” tanya Takumi.

“Aku akan menyumpalkan kaosku.” kata Shoji.

“Berharap sajalah takkan terjadi sesuatu.” Aku menulis. Namun aku sendiri meragukannya. Biksu itu memang tak mau berterus terang tentang apa sesungguhnya yang menimpa kami. Namun, ia menekankan bahwa sesuatu akan terjadi.

Dengan pikiran itu, aku berharap waktu akan segera cepat berlalu. Namun aku sangat takut, apa yang akan terjadi ketika malam tiba?

Rasa takutku ketika aku berdiri di ujung tangga di “kuil” itu kembali menyeruak. Satu-satunya yang menyelamatkanku saat itu adalah melihat teman-temanku ada di sana, menungguku.

Sedikit, aku berhasil membunuh rasa takut dengan ingatan itu, dimana teman-temanku selalu ada untukku.

Aku kembali menulis di atas kertas itu, “Kita tak punya banyak waktu lagi. Apa ada yang ingin kalian bicarakan?”

Aku hanya berharap pembicaraan sehari-hari akan sedikit menenangkan perasaan kami yang sedang kacau saat itu.

Takumi sepertinya mengerti dan mengambil kertas tersebut, “Apa yang akan kalian lakukan saat pulang nanti?”

“Pertanyaan bagus,” tulisku, “Kurasa aku akan ke rental video.”

“Kenapa ke sana?” tanya Shoji.

“Aku lupa mengembalikan DVD saat kita berangkat dulu.”

“Hah? Serius? Ini sudah hampir sebulan. Dendanya pasti sangat mahal.” balas Shoji.

“Apa itu DVD yang isinya aneh-aneh?” tanya Takumi.

Aku tersenyum. Sebenarnya itu hanya bohong belaka. Aku hanya menulis itu agar kami memiliki sesuatu untuk dibicarakan. Ini bekerja, kami merasa sedikit santai setelahnya. Baik Takumi dan Shoji kemudian menulsikan rencana-rencana mereka. Cukup untuk membuat kami merasa optimis sedikit.

Ketika kertas yang kami miliki hampir habis, Shoji menulis sesuatu yang membuatku merinding.

“Aku akan melakukan apa yang dikatakan biksu itu. Aku tak mau mati.”

Takumi dan aku saling bertatapan. Kami tak pernah menyinggung-nyinggung kata “mati” sebelumnya. Dan ini menyadarkanku bahwa nyawa kami mungkin dalam bahaya.

Aku hanya bisa mengangguk pada Shoji.

Setelah itu, matahari mulai terbenam. Aku merasakan kesepian yang sama ketika aku pertama masuk ke kuil ini. Suara jangkrik mulai bersahutan di luar. Namun aku segera menyadari ada yang ganjil.

Aku mendengarkan lebih saksama. Aku bisa mendengar sayup-sayup suatu suara yang aneh. Aku mencoba mendengar lebih baik. Dan semakin aku mencoba, aku mendengar suara itu semakin jelas dan jelas.

Itu suara napas yang kudengar di lantai dua penginapan saat itu.

TO BE CONTINUED

Minggu, 08 Juni 2014

RESORT PART 08

 

Aku menoleh, dan tetap, aku tak melihat apapun di balik pintu kertas itu. Namun aku memperhatikan raut wajah Shoji amat ketakutan.

Biksu itu menoleh ke arah kami, “Jadi mana anak yang katamu bisa melihat mereka itu?”

“Shoji, anak ini.” ketika Ryuichi mengatakan hal itu, pria paruh baya dan pria tua itu saling menatap satu sama lain.

Sang biksu kemudian berbicara.

“Apa dia juga yang masuk ke dalam kuil?”

“Tidak.” Ryuichi menggeleng, “Itu adalah Yuuki.”

“Hmm...” hanya itu yang bisa dikatakan biksu itu.

“Shoji hanya di luar dan hanya mengamati, kurasa.” sambung Ryuichi.

“Begitukah?” biksu itu terdiam sesaat lalu berbicara dengan Shoji, “Apa ini kali pertamanya kamu mengalami hal seperti ini?”

“Mengalami hal seperti ini?” ia bertanya, tak yakin dengan apa yang dimaksud biksu itu.

“Ya, melihat roh atau hal-hal seperti itu.”

Shoji mengangguk, “Ini kali pertamaku.”

“Jadi begitu? Hmm...ini cukup aneh.”

“A....” Shoji tampak hendak berbicara dan semuanya menoleh ke arahnya.

“Bicaralah.” kata sang biksu.

“Apa aku akan mati?” ia tampak bergetar saat mengatakannya.

“Ya,” sang biksu menjawab tanpa tedeng aling-aling, “Jika ini terus berlanjut, kau pasti akan mati.”

Shoji kehilangan kata-kata. Gemetarnya berhenti seketika dan kepalanya menunduk.

Melihatnya, Takumi langsung berbicara, “Apa maksud anda dengan dia akan mati?”

“Maksudku ia akan dibawa pergi,” sang biksu menjawab. Takumi dan aku masih tak mengerti dengan apa yang ia maksud. Sesuatu akan membawa Shoji pergi?

Sang biksu melanjutkan perkataannya,

“Aku tak terkejut kalian tak memahami perkataanku.” Ia berpaling kepadaku, “Yuuki, ketika kamu masuk ke dalam kuil, apa kamu merasakan ada yang aneh?”

Kuil? Aku mengasumsikan yang ia maksud adalah lantai kedua hotel itu.

“Aku mendengar sesuatu. Suara garukan dan ada suara napas yang aneh. Ada banyak jimat menancap di pintu ...”

“Begitu,” kata sang biksu, “Kamu mungkin tak menyadarinya, namun yang tinggal di sana bukanlah manusia.”

Aku tak terkejut. Aku sudah menduganya sejak awal.

“Aku percaya bahwa kau dapat merasakan keberadaan mereka dengan indra pendengaranmu. Sedangkan Shoji, temanmu, bisa merasakan mereka lewat indra penglihatannya.” biksu itu menjelaskan, “Biasanya manusia tak mampu merasakan mereka. Mereka tinggal di suatu tempat, tanpa ada yang memperhatikan, meringkuk dalam kesunyian.

“Shoji,” ia berpaling ke temanku itu, “Apa kau melihatnya sekarang?”

“Tidak, namun aku bisa melihat bayangannya,” ia menoleh dengan gugup, menatap pintu geser kertas yang berada di samping kami. “Ia mencakari pintu dengan sangat keras.”

“Ia tak bisa masuk. Aku melindungi tempat ini, namun tetap saja ia berusaha menghancurkan pelindung itu.” Ia berhenti beberapa saat sebelum kembali melanjutkan, “Tapi kalian tak bisa tinggal di sini selamanya. Aku akan meminta kalian pergi ke suatu tempat. Dan Shoji, kau harus mengerti ... mereka akan mencoba muncul kembali di hadapanmu. Aku sadar ini akan sangat sulit bagimu. Namun kau harus tetap tenang dan mengikuti apapun perintahku.”

Shoji hanya mampu mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun. Kami mengikuti biksu itu dan meninggalkan rumah yang melindungi kami. Kami berjalan masuk ke torii dan menaiki tangga batu itu ke atas. Ryuichi hanya mengikuti kami sampai ke luar rumah. Ia kemudian membungkuk dan meninggalkan kami di tangan biksu itu.

Merasa ditinggalkan oleh satu-satunya orang yang kami kenal, kami bertiga mengikuti biksu itu dengan enggan. Shoji terlihat sangat lelah dan ketakutan. Berupaya melindunginya, aku dan Takumi berjalan sambil mengapitnya. Kami berusaha sebisa mungkin menjaganya dari apapun yang ia lihat.

Begitu kami sampai di anak tangga terakhir, kami melihat sebuah kuil besar. Namun mengejutkan bagi kami, biksu itu tidak membawa kami ke sana; melainkan melewati sisi kanan kuil tersebut dan terus berjalan. Di sana terdapat sebuah torii lain dan tangga-tangga batu menuju ke atas. Namun sebelum kami tiba di bawah gerbang itu, sang biksu berbicara pada kami.

“Shoji, apa yang ia lakukan sekarang?”

“Ia berdiri ...” Shoji berkata, masih melihat ke sekeliling, “Ia selalu mengawasi dan mengikuti kita, kemanapun kita pergi.”

“Hmm... dia sudah berdiri? Dia pasti sangat bersemangat karena kau bisa melihatnya.” Biksu itu menjelaskan, “Kita sudah tak punya banyak waktu. Ayo, cepat!”

Ketika kami selesai menaiki anak-anak tangga tersebut, kami melihat kuil lain. Kuil ini lebih kecil, namun umurnya terlihat lebih tua daripada kuil yang ada di bawah tadi. Biksu itu berjalan ke bagian belakang kuil kemudian memanggil kami. Kami berjalan ke tempat dimana ia berdiri dan ia menjelaskan bahwa kami harus menghabiskan malam ini di dalam kuil untuk membersihkan diri kami dari apapun yang mencoba menempel pada kami. Begitu kami masuk, ternyata tak ada satupun sumber penerangan dan kami juga dilarang berbicara sepatah katapun hingga fajar tiba.

“Tentu kalian juga tak boleh menggunakan telepon genggam kalian juga.” Sang biksu menjelaskan, “Semua yang menghasilkan cahaya tidak diperbolehkan di dalam kuil ini. Aku juga melarang kalian untuk makan dan tidur selama kalian berada di dalam kuil.”

Ia memberikan kepada kami masing-masing sebuah kantong aneh dan mengatakan pada kami untuk menggunakannya apabla kami benar-benar membutuhkannya. Aku menatapnya lekat-lekat. Kantung ini untuk apa? Sebelum aku bertanya, biksu itu seakan sudah bisa membaca pikiranku dan menjelaskan bahwa kantong itu tahan air. Aku pikir itu adalah toilet kami untuk malam ini. Memang sukar dipercaya, namun kami terpaksa menerima semua peraturan yang diberikan kepada kami.

Setelah biksu itu selesai menjelaskan, kami diminta untuk meneguk air dari sebuah pipa bambu sebelum kami masuk ke dalam kuil.

Kami masuk ke dalam kuil satu-persatu, namun ketika Shoji masuk, ia menutup mulutnya tiba-tiba dan keluar untuk muntah. Takumi dan aku terkejut, namun ada yang lebih terkejut daripada kami. Biksu itu. Ia segera kehilangan postur tenangnya begitu melihat apa yang terjadi pada Shoji.

“Kalian tidak pergi ke kuil itu lagi hari ini, bukan?”

“Hah, tidak...tentu tidak.” jawabku.

“Aneh. Kalian hanya masuk sekali, namun upacara pembersihan langsung dimulai begitu kalian masuk. Bahkan kalian tak bisa masuk ke dalam kuil ini...”

Aku tak mengerti apa yang biksu itu katakan, namun ia menatap tas yang dibawa Shoji.

“Selama kalian tinggal di hotel, apa seseorang pernah memberikan kalian sesuatu?”

“Kami mendapat upah kami, namun hanya itu.”

Kemudian barulah kami teringat, “Oya, nyonya pemilik penginapan memberikan kami sebuah tas uang koin kecil.”

“Dan onigiri.” sahut Takumi.

Setelah mendengar hal tersebut, biksu itu bertanya pada Shoji, “Apa kau kebetulan membawa benda-benda itu?”

“Aku meninggalkan onigiri itu di tasku yang lain, namun kurasa aku punya uang koin dan amplop berisi upah kami.” Ia membuka tasnya dan mengeluarkan amplop dan tas uang koin yang kami terima. Sang biksu mengambil tas kecil itu dan membukanya.

Semula aku berpikir tas itu akan berisi uang-uang koin sebagai bagian dari upah kami.

Namun ketika ia membukanya dan memperlihatkan isinya pada kami, kami langsung mundur dengan ketakutan.

Tas kecil itu berisi potongan-potongan kuku, sama seperti potongan kuku yang menggores kakiku kemarin. Kuku-kuku berwarna putih dan merah.

Shoji muntah lagi dan biksu itu memutuskan untuk mengambil semua barang yang kami bawa. Kami memberikannya dompet, telepon genggam, dan benda lainnya yang kira-kira kami dapatkan dari hotel. Biksu itu mengangguk pada kami dan membiarkan Shoji minum dari pipa bambu itu kembali.

Kami bertiga masuk kembali ke dalam kuil.

“Kalian tak boleh membuka pintu ini,” kata sang biksu, “Aku akan berada di kuil utama. Aku akan kembali menjemput kalian esok pagi.”

Ia berhenti sesaat dan menatap kami.

“Kalian tidak boleh berbicara pada apapun yang mungkin akan datang dari balik dinding. Kalian tak boleh berbicara satu sama lain juga. Kam tidak mengatakan pada siapapun dimana kalian berada, jadi tidak akan ada siapapun yang datang untuk kalian malam ini, ingat itu! Aku akan berdoa bagi keselamatan kalian.”

Biksu menatap kami lagi dan kami mengangguk ke arahnya. Hanya itu yang bisa kami lakukan. Kami sudah tidak diperbolehkan berbicara, sehingga kami hanya diam, ketakutan.

Biksu itu meninggalkan kami dan menutup pintu kuil itu rapat-rapat.

TO BE CONTINUED

Selasa, 03 Juni 2014

Planet Nibiru atau Planet X


Kalangan “orang dalam” di NASA, DoD (badan inteligensi militer), SETI maupun CIA sudah memprediksikan, kalau 2/3 dari penduduk planet bumi akan punah, ketika terjadi pergantian kutub, yang disebabkan kedatangan Planet X. Sisa populasi yang bertahan hidup, terancam bahaya kelaparan dan radiasi elemen, dalam jangka waktu 6 bulan setelah kejadian ini.
Semua operasi rahasia menyadari kenyataan ini, dan sudah menyiapkan diri mereka. Konon, Vatikan juga mengetahui hal tersebut. Namun sayangnya, masyarakat luas dibiarkan begitu saja tanpa informasi, dibiarkan terlena dengan kehidupan sehari-hari, tanpa punya kesempatan untuk menyiapkan diri menghadapi bencana ini.

Ada apa sebenarnya?
Bocornya segelintir informasi dari kalangan “orang dalam” dan para pengamat, membuat publik mulai tertarik akan hal ini. Kenapa bencana ini begitu dirahasiakan dari masyarakat luas? Jika sampai membuat kegemparan global, maka akan mempengaruhi pasar uang serta mengakibatkan lumpuhnya perekonomian dunia.
Seharusnya masyarakat luas diberikan kesempatan untuk mempersiapkan diri. Mudah-mudahan, setelah membaca ini, kita bisa semakin waspada ya!
Oke..saat ini, kalau kita jeli mengamati perkembangan bencana alam, jumlah kejadian bencana alam semakin banyak. Ini diakibatkan koneksi plasmatic elektromagnetis antar planet. Sudah pernah dengar dong, kalau matahari KONON memiliki kembaran yang gelap (versi gelapnya matahari). Nah, disitulah lokasi mengorbitnya Planet X. Tepat diantara matahari dan kembarannya.
Catatan : kembaran matahari tidak terlihat dengan mata kita.
Tapi, para ilmuwan sudah menemukannya. Dalam “Illustrated Science & Invention Encyclopedia” volume ke 18, terbitan tahun 1987-1989, sudah dicantumkan soal keberadaan kembaran matahari ini.
Sekelompok ilmuwan Rusia mengadakan rangkaian pertemuan di tahun 2000, untuk mendiskusikan planet X. Hal ini menjadi sumber berita Reuter dengan headline “Kejadian di tahun 2003” (diterbitkan Kantor Berita Reuter, edisi 13 September 2000)
Inti pertemuan tersebut adalah mengenai musibah kedatangan Planet X, yang keberadaannya sudah di monitor dari observatori Rusia. Para ilmuwan bertanya-tanya, jika ini terjadi, akankah Rusia masih tetap ada?
Ilmuwan Andrei Shukshin menyatakan, dalam pertemuan ini juga dibahas tentang pengurangan jumlah penduduk global secara besar-besaran, akibat peristiwa ini.
Yang pasti, Planet X memang ada dan mengorbit. Tapi, akankah bertabrakan dengan bumi? Ini yang masih dipelajari.
Di Observatori St.Petersburg Rusia, pengamatan seputar Planet X berlangsung intensif. Ilmuwan disana menamai planet ini dengan sebutan “Raja Sun” atau “Bintang Yang Besar”.
Tak banyak ilmuwan yang bersedia membagi informasi soal planet ini, karena kekhawatiran akan menimbulkan kepanikan global. Dan banyak pegawai NASA yang diam-diam membuat “home dome” yaitu rumah khusus, dengan konstruksi khusus, yang bersifat tahan topan badai, tahan gempa dan angin tornado. “Home dome” harus dibangun di area perbukitan, jauh dari pantai.
Planet X juga dikenal dengan nama Nibiru, atau disebut “Wormwood”, merupakan benda angkasa luar yang paling sering disebut sejak jaman kuno.
Setelah mengorbit selama 3600 tahun, planet ke 10 ini akan datang lagi.
Dampak kedatangan Planet X terhadap bumi, sudah dicatat nenek moyang kita ribuan tahun lalu. Ilmu Geologi dan Arkeologi juga mencantumkannya.
Simpang Siur Planet X
Untuk mencegah kepanikan soal Planet X, banyak observatorium yang kini “tiba-tiba” tertutup untuk umum. Petugas observatorium bahkan tak mau mengarahkan teleskop ke konstalasi bintang Orion. Banyak alasan dibuat, supaya orang tak mempercayai kenyataan ini. Kenyataan tentang Planet X. Adler Planetarium & Astronomy Museum in Chicago maupun Hayden Planetarium di Rose Center for Earth and Space, New York seringkali tertutup untuk umum, dengan berbagai alasan. Juga di banyak negara.
Planet X memang sengaja dibuat seperti mitos konyol, omong kosong yang membingungkan. Kenapa? Supaya tak terjadi kepanikan massal. Banyak situs di internet yang mengabarkan informasi palsu seputar Planet X.
Berikut, beberapa informasi yang KELIRU soal Planet X :
1. Planet X bisa jadi tak pernah ada, karena tak ada bukti kuat tentang keberadaannya. Kalaupun ada, munculnya pasti hanya sekali dalam sekian juta tahun. (Ini jenis informasi yang paling banyak kita jumpai)
2. Planet X memang ada, tapi tak akan muncul di era (jaman) kita.
3. (Tersebar di kalangan ilmuwan & observatorium) Planet X memang ada, dan akan menghampiri bumi. Tenang saja, jangan panik, karena itu hanya kejadian biasa. Tidak akan ada bencana.
Fakta Planet X
Massa Planet X begitu besar, dengan kutub magnetis yang memiliki kadar plasma tinggi dan pancaran energi yang begitu dahsyat, PASTI mengakibatkan kerusakan hebat pada planet yang dilewatinya.
Biasanya beberapa tahun sebelum kedatangan planet X,gelombang elektromagnetik Planet X mengakibatkan perubahan-perubahan besar pada planet yang akan dilewatinya. Ini bisa dilihat pada perubahan iklim dahsyat yang melanda Planet Bumi.
Aktivitas gempa dan vulkanis mengalami perubahan 3 hingga 4 dekade sebelum kedatangan Planet X. Sejak tahun 1996, perubahan cuaca di Bumi mencatat rekor tertinggi. Berbagai bencana alam, mulai dari gempa, aktivitas vulkanik dan perubahan elektromagnetis begitu tajam peningkatannya, namun datanya selalu “diperhalus” untuk masyarakat luas.
Pemanasan Global?
Masuk akal, kalau perubahan cuaca dibilang sebagai akibat dari pemanasan global. Tapi, apakah perubahan pada siklus matahari juga akibat pemanasan global? Sama sekali tak ada kaitannya!
99% tata surya kita terbuat dari konsentrasi plasma hingga ke level atomic. Planet adalah plasma yang memiliki kepadatan tertentu. Kembalinya Planet X ke system solar kita mengakibatkan perubahan konsentrasi elektrikal pada energi plasma di SEMUA planet yang ada, di tata surya kita.
Menurut pandangan ilmuwan Rusia, perubahan aktivitas vulkanik dan gempa meningkat sebanyak 400 sampai 500 persen sejak tahun 1975.
Perubahan ini tidak hanya terjadi di bumi saja, tapi juga pada semua planet. Setiap planet di tata surya kita mengalami peningkatan aktivitas dan perubahan cuaca. Banyak fakta yang tidak diterbitkan oleh media. Dr.Dmitriev menyatakan bahwa planet-planet lain juga mengalami perubahan. Contohnya : atmosfir di Mars kini semakin tebal, begitu juga di Bulan. Kini ada lapisan Natrium setebal 6000 kilometer yang sebelumnya tak pernah ada.
Lapisan atas atmosfir bumi juga mengalami perubahan kadar HO. Hal yang samasekali tak ada hubungannya dengan pemanasan global, dampak CFC ataupun akibat polusi. Bukan itu saja, medan magnetik planet-planet juga mengalami perubahan. Beberapa planet bertambah terang. Venus contohnya, terlihat semakin terang bercahaya. Jupiter bahkan memiliki radiasi energi yang berbentuk seperti tabung yang terhubung dengan bulannya.
Uranus dan Neptunus baru saja mengalami perubahan kutub. Saat pesawat Voyager 2 melintasi Uranus dan Neptunus, perubahan kutub terjadi di bagian Utara dan Selatan Planet.
Rangkaian perubahan yang terjadi di tata surya kita, dapat dibagi dalam 3 kategori :
  1. perubahan medan energi
  2. perubahan pijar
  3. perubahan atmosfir
Pada periode tahun 1963 hingga 1993, jumlah peristiwa bencana alam meningkat 410 persen. Dan bencana-bencana terdahsyat terjadi 9 tahun belakangan.
Dr.Dmitriev menemukan bahwa medan magnetic matahari meningkat 230 persen sejak tahun 1901.
Jadi, yang mengalami perubahan bukan hanya planet Bumi. Hanya sedikit kalangan yang menyadari fakta ini. Di Akademi Sains Nasional Siberia, Rusia, khususnya di Novosibirsk, berlangsung penelitian terhadap matahari. Dan Dr.Dmitriev dengan takjub mengemukakan bahwa, matahari bertambah terang 1000 persen dibanding sebelumnya, dan masih terus bertambah terang.

Melihat Planet X
Hanya teleskop terbesar (yang dijaga ketat) bisa digunakan untuk melihat Planet X. Sejumlah observatorium kecil di dunia mencatat keberhasilan melihat Planet X di awal tahun 2001.
Dr.Harrington, rekan sejawat dari Ilmuwan dan arkeolog Zecharia Sitchin, yang pertama meyakini keberadaan NIBIRU atau Planet X berdasarkan catatan kuno orang Sumeria, meninggal mendadak akibat kecelakaan. Diduga ini disebabkan keberanian Harrington mengekspos penemuan planet ke 10 yang dikenal dengan nama Planet X ini, guna melengkapi teori Sitchin.
Sejak peristiwa ini, para ilmuwan memilih tutup mulut dan tak mau bicara banyak soal Planet X dan aktivitasnya. Saat Zecharia Sitchin menerbitkan buku yang didasari tulisan terjemahan bangsa Sumeria Kuno, Sitchin menyatakan ada 12 planet di tata surya kita. Saat buku diterbitkan (tahun 1970an), Teori Sitchin ditertawakan. Tapi, saat satu persatu temuan ilmuwan membuktikan bahwa Teori Sitchin benar, statement Sitchin mulai diawasi ketat.
Dalam bukunya, “The 12th Planet”, Sitchin menulis tentang legenda “Komet Kiamat” atau “Nemesis” yang muncul secara periodic dan menciptakan kehancuran.
Zaman Es
Ingatkah pelajaran di Sekolah Menengah tentang Zaman es? Kisah ini merupakan petunjuk bahwa Planet Bumi senantiasa mengalami perubahan periodic. Dan yang dimaksud bukan hanya perubahan kutub saja. Ingat fosil gajah mammoth beku yang ditemukan di Kutub? Saat diteliti, dalam lambungnya masih ada tanaman tropis yang baru saja dimakan. Ini membuktikan, mammoth tersebut membeku dalam sekejap! Istilah zaman es bukan berarti perubahan yang bertahap, tapi instant.
Ingat film “The Day After Tommorow”? Kira-kira secepat itulah pergerakan esnya! Dan ini terjadi setiap kali Planet X mendekat.
Aku akan perdalam sedikit soal Zaman Es sebelum kita lanjut ke Planet X, karena…inilah yang akan terjadi nanti.
Zaman Es Akan Terulang Lagi
Teman-teman, baca tulisanku ini dengan seksama. Ambil segelas minuman, dan baca dengan teliti…Ini SERIUS. Ini bukan bacaan sambil lewat. Kita sedang menjelang zaman es, bukan pemanasan global. Sebab :
  1. Kita bukanlah penyebab terjadinya Pemanasan Global. Dalam kadar maksimal, hanya 3 % gas karbondioksida (CO2) yang dihasilkan umat manusia. Jumlah CO2 dalam udara saat ini menyerap hampir semua radiasi yang ada. Jadi, tak ada hubungan antara kaitan jumlah kadar CO2 dan radiasi.
  2. 17.000 orang imuwan menandatangani petisi yang menyatakan bahwa CO2 yang dihasilkan manusia bukanlah penyebab pemanasan global. Peningkatan kadar CO2 sebanyak 30 % persen di atmosfir kita dalam 100 tahun terakhir adalah akibat kenaikan suhu laut. Dan naiknya temperature laut disebabkan meningkatnya gempa dan aktivitas vulkanik.
  3. Selama ini kita belajar di sekolah bahwa Zaman Es hanya terjadi sekali dalam sejarah. Tapi, nyatanya, Zaman es terjadi beberapa ratus kali.
  4. Matahari bersifat elektromagnetis. Inilah yang mengakibatkan timbulnya bintik matahari, yang terus bertambah. Bumi juga bersifat elektromagnetik. Pada waktu-waktu tertentu, kutub magnetic akan berubah. Dan perubahan ini diakibatkan perubahan pada tata surya kita.
  5. Di masa lalu, saat perubahan kutub terjadi, dibarengi juga dengan aktivitas vulkanik, gempa, zaman es dan kepunahan. Terjadi secara serentak. Perubahan ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Bayangkan, dalam satu malam, suhu bisa turun 20 derajat!
  6. Zaman es berulang secara periodik setiap 11.500 tahun.
  7. Satu inci hujan menghasilkan 10 inci salju. Di tahun 2007 ini, Colorado tertutup salju setinggi 30 kaki dalam satu kali badai saja. Baca kisahnya diwww.iceagenow.com/Record_Lows_2007.htm
  8. Saat ini, Kutub Artik memiliki suhu yang cukup dingin untuk mengakibatkan Zaman Es. Yang dibutuhkan Cuma tambahan kelembaban sedikit saja, untuk menghasilkan lebih banyak salju. Saat ini dengan meningkatnya temperatur air laut akibat pergerakan vulkanik, kelembaban semakin meningkat di Kutub Artik.
  9. Untuk melihat daftar Glasir (glacier) yang mulai terbentuk saat ini, lihat situs www.iceagenow.com Data ini tidak dimuat oleh media massa. Besar kemungkinan, kita semua akan mengalami Zaman es.
  10. Film “An Inconvenient Truth”-nya Al Gore menyesatkan banyak orang. Informasi yang benar dalam film tersebut hanya soal semakin meningkatkan temperature air laut akan memicu kemunculan Zaman Es dalam waktu sekejap.
    Kenapa Ini Sangat Penting?
    Meski kita nggak tinggal di kawasan yang akan tertutup lapisan es setinggi ratusan atau ribuan kaki, kita tetap harus menyiapkan diri.
    Dalam bukunya “Not by Fire, but by Ice” karya arsitek bernama Robert Felix, disebutkan tentang perubahan kutub dan berbagai bencana alam yang akan menyertainya. Persediaan makanan di seluruh dunia akan habis selama beberapa tahun. Pertanian tak mungkin dilakukan, karena kekacauan iklim.
    Planet X ada di sistem kita. Tapi keberadaannya diragukan. Saat ketemu, langsung ditutup2i. Soal matahari gelap (dark sun) yang merupakan kembaran matahari kita, nanti akan kusinggung sedikit. Keberadaan dark sun memang nggak banyak dibahas oleh para astronom. Karena, kalau orang mulai fokus ke dark sun, dengan sendirinya akan nemu Planet X. Karena Planet X mengorbit diantara matahari dan matahari gelap.
    Analoginya :
    Kita melihat rumah & kebun di malam hari. Hanya bagian2 yang diterangi lampu taman kan, yang kelihatan? Kalau berdiri depan pagar rumah, apa tikus yang berada di pojok taman, tak diterangi lampu juga keliatan? Pasti nggak. Yang kelihatan cuma yang diterangi lampu taman. Seperti inilah kondisi tata surya kita, jika diamati dari bumi. Makanya sekarang NASA juga memiliki teleskop Infra Merah.
    Sumeria dan Planet X
    Tulisan kuno bangsa Sumeria sejak 6000 tahun lalu mencantumkan Planet Nibiru sebagai bagian dari system solar kita. Nibiru berarti “planet yang bersilangan”.
    Deskripsi Nibiru sama persis dengan Planet X (Planet Ke Sepuluh).
    Menurut catatan astronomi kuno yang dicocokkan dengan pengetahuan modern : Planet X memiliki orbit eliptik seperti komet, dengan perjalanan melampaui orbit Pluto.
    Kalkulasi Observatorium
    Dr. Thomas C. Van Flandern, astronom dan ilmuwan dari Oberservatorium Naval Amerika mengatakan, perubahan kutub di Uranus dan Neptunus, terjadi akibat sebuah planet. Bersama rekannya, Dr. Richard Harrington, ia membuat kalkulasi tentang sebuah planet (urutan ke 10 di system tata surya kita) dengan ukuran 2-3 kali lebih besar dari bumi, serta memiliki tingkat orbit eliptikal yang tinggi.
    Penemuan ini melengkapi teori Sitchin, bahwa letak planet X dekat dari Bumi. Pada tahun 1982, NASA mengeluarkan statement tentang keberadaan Planet X. Namun sekarang, NASA menolak berkomentar sama sekali.
    Jika Planet X Mendekat
    Setiap kali Planet X mendekat, berbagai perubahan drastic terjadi di Bumi. Perubahan ini mengakibatkan kerusakan besar dan kepunahan. Sejarah mengisahkan peristiwa-peristiwa ini. Monumen peninggalan peradaban lampau menjadi saksi kejadian tersebut.
    Sebut saja, Legenda Atlantis, Lemuria, Indian Maya dan perabadan lainnya, yang hanyut terbenam lautan atau punah sekejap, terjadi akibat kedatangan Planet X. Sisa-sisa kebudayaan mereka bisa kita temui di Florida, Jepang dan kawasan Mediterania.
    Semakin dekat Planet X dari bumi, semakin kuat daya magnetic dan gravitasinya. Ini bisa kita rasakan setiap hari. Semakin dekat planet X dengan kita, semakin cepat laju pergerakannya. Berbagai bencana dahsyat yang susul menyusul terjadi di berbagai negara hanyalah awal kecil dari apa sesungguhnya akan terjadiPenghuni NIBIRU

Senin, 02 Juni 2014

RECOMMENDED FOR RIDDLE LOVERS: RIZKANADEEH.BLOGSPOT

 

image

Di comment serial “Resort” gue yang makin seru dari hari ke hari *kyaaaaaaaaa*, ada salah satu readers yang ngasih link blog miliknya. Namanya Rizkan dan alamat blognya adalah rizkanadeeh.blogspot.com. Well, iseng2 gue klik dan ternyata isi blognya keren banget. Emang masih baru sih dan hanya ada beberapa postingan, namun rupanya sebagian besar adalah cerita2 riddle horor. Saat tulisan ini dibuat, ada 16 riddle yang ada di blog dia. Gue sendii nggak tahu riddle2 itu asli karangan dia sendiri atau translate, tapi menurut feeling gue sih dia bikin sendiri. Wah keren dong, gue jarang2 baca ada riddle bikinan Indonesia (adanya yang impor hehehe). Bahkan saking kerennya riddle2nya, beberapa ada yang kagak bisa gue jawab hehehe *tolol*. Nah, gue nggak akan memonopoli (apalagi copas) dan mempersilakan para readers buat ngecek blog ini, silakan klik aja:

http://rizkanadeeh.blogspot.com/

Try to solve the riddles and give comments to this amazing blog! Gue suka nih kalo ada yang bagi2 blog2 keren dan kreatif gini. Keep writing bro!!!

NB:

Oya gue juga mau curhat dikit. Ada readers yang mengusulkan kalo blog Mengaku Backpacker juga ngasih kesempatan para readers buat ngirim riddle2 karyanya sendiri lewat email. Namun masalahnya balik lagi ke kenapa gue ngurangin postingan gue, yakni kagak ada waktu. Emang sih ini ide yang cemerlang *cieee cemerlang* tapi jujur admin terkendala waktu dari dulu dan mungkin nggak bisa nyeleksi satu2 riddle yang masuk. Mungkin kalo admin ada waktu luang ide ini bakal gue realisasikan. It’s a cool idea btw. But for a meanwhile, silakan nikmati saja apa yang ada, OK?

BONUS: DON’T TRY THIS AT HOME!!!

 

4 PERMAINAN HOROR YANG SEBAIKNYA TAK KAMU LAKUKAN

 

Would you be a part of urban legend?

Jika biasanya aku memberikan urban2 legend berupa cerita horor dan pengalaman2 mengerikan dari Jepang, maka kali ini aku akan memberikan kesempatan bagi para readers untuk mengalaminya sendiri. Berikut ini admin hadirkan 3 permainan untuk kalian. Tiap permainan akan membawa kalian satu langkah untuk mendapatkan pengalaman mistis. Sepertinya satu-satunya cara untuk membuktikan apakah permainan2 ini berhasil atau tidak adalah dengan mencobanya sendiri.

Namun admin sarankan, sebaiknya jangan sekali2 mencoba permainan2 ini, sebab admin sama sekali tak bertanggung jawab akan apa yang terjadi apabila kalian benar2 melakukannya.

GAME 1

Tujuan: untuk mengetahui apakah ada hantu bersamamu atau tidak

Alat dan bahan: tidak ada, hanya imajinasimu

Cara bermain:

Tutuplah matamu dan bayangkan apa yang kau makan sebelum ini (bisa sarapan, makan siang, atau makan malam). Bayangkan serinci mungkin, bahkan cara saat kau memakannya.

Silakan blok ruang kosong di bawah tulisan ini untuk mengetahui instruksi selanjutnya. NAMUN LAKUKAN HANYA APABILA KAMU TELAH MELAKUKAN INSTRUKSI DI ATAS!

Apa yang kau lihat? Ada dua kemungkinan dalam permainan ini.

1. Kau mengalami pengalaman makan itu dari sudut pandangmu sendiri. Itu berrati kau sedang tidak dihantui.

2. Kau melihat dirimu sendiri sedang makan. Jika itu terjadi, maka ada “sesuatu” yang mengawasimu saat kau sedang makan.

 

GAME 2

Tujuan: untuk mengetahui apakah ada hantu di rumahmu

Cara bermain:

Tutuplah matamu dan coba bayangkan isi rumahmu. Bayangkan kau berjalan melintasi seluruh kamar di rumahmu, mulai dari ruang tamu, dapur, hingga kamar tidurmu.

Silakan blok ruang kosong di bawah tulisan ini untuk mengetahui instruksi selanjutnya. NAMUN LAKUKAN HANYA APABILA KAMU TELAH MELAKUKAN INSTRUKSI DI ATAS!

Apa yang kau lihat? Apakah kau menjumpai “seseorang” saat kau sedang menjelajahi rumahmu dalam pikiranmu? Jika benar, maka ia sedang menghantui rumahmu saat ini.

 

GAME 3

Tujuan: mengetahui apakah kamu sendirian di kamarmu ataukah tidak

Alat dan bahan: handphone yang dapat merekam video

Cara bermain:

1. Sediakan sebuah telepon genggam berkamera. Berdirilah di tengah ruangan.

2. Pegang teleponmu ke arah depan dan mulai rekam video dengan handphone itu. Lensa harus menghadap menjauhi kamu. Tutup matamu dan mulailah merekam seluruh ruangan sambil berputar satu putaran penuh. Setelah itu buka matamu dan simpan rekaman.

3. Cara ketiga hampir sama dengan yang kedua. Namun bedanya, lensa kamera harus menghadap ke arahmu. Tutup matamu dan berputarlah sambil terus merekam videonya. Kemudian simpan file tersebut.

4. Silakan cek kedua rekaman itu jika berani.

PERINGATAN:

Mungkin ada baiknya kau tak tahu apa yang ada di kamar tersebut.

 

GAME 4

Tujuan: berbicara dengan roh

Alat dan bahan: dua buah kursi (dan jika memungkinkan, sebuah meja di antaranya)

Cara bermain:

1. Permainan ini bertujuan untuk mengundang hantu. Pertama tata dua kursi saling berhadapan. Jaga agar tak terlalu dekat, seperti kau mengatur kursi untuk bercakap-cakap dengan seseorang. Taruh meja di antaranya jika tersedia.

2. Matikan lampu dan duduklah di salah satu kursi itu.

3. Mulailah berbicara, apa saja., seperti kau sedang memulai percakapan. Kau juga bisa menceritakan cerita seram. Konon cerita2 seperti itu akan mengundang makhluk gaib.

4. Jika kau beruntung, maka kau akan merasakan sesuatu tengah mendengarkanmu di kursi yang ada di seberangmu.

PERINGATAN:

Hati-hati dalam bermain permainan ini, sebab jika “ia” benar2 datang, tak ada cara untuk mengusirnya pergi.

URBAN LEGEND #20: GARASI

 

GARASI

GARAGE

(Cerita ini adalah sebuah riddle)

 

Aku baru saja memperoleh SIM-ku dan untuk pertama kalinya, aku mengendarai mobil orang tuaku ke rumah. Garasi rumahku sangatlah sempit, hanya muat satu mobil ini saja. Ibuku khawatir aku tidak dapat memarkirkan mobil ini dengan benar, maka iapun turun untuk memberikan panduan dari belakang mobil.

“Ayo .. ayo terus ...”

Yeah, akhirnya aku berhasil memasukkan mobilku ke dalam garasi! Bukankah aku hebat!

URBAN LEGEND #19: KECELAKAAN

 

KECELAKAAN

ACCIDENT

(Cerita ini adalah sebuah riddle)

 

Sebuah kecelakaan mengerikan terjadi antara sebuah truk dengan sebuah sepeda motor yang tengah melaju kencang. Ketika paramedis tiba, pria pengendara sepeda motor itu ditemukan dengan kondisi menggenaskan, kepalanya telah berputar 180 derajat ke sisi sebaliknya.

Walaupun mungkin takkan berguna banyak, paramedis memutuskan mengembalikan posisi kepalanya seperti semula dengan memutar lehernya.

Pria itu akhirnya meninggal.

Sebagai dokter yang mengotopsinya, barulah aku menyadari ia memakai jaketnya terbalik.

URBAN LEGEND #17: TELEPON

 

TELEPON

(Cerita ini adalah sebuah riddle)

 

Aku pulang larut malam karena harus bekerja lembur. Akibatnya aku kehabisan KRL dan terpaksa menginap di stasiun kereta. Stasiun itu sangat sepi dan walaupun aku agak takut, akhirnya aku bisa terlelap tidur. Sekitar jam 2 pagi aku tiba-tiba terbangun karena sakit perut. Akupun segera mencari toilet umum. Ketika aku berada di dalam bilik, aku mendengar seseorang masuk ke dalam bilik yang ada di sampingku.

“Aneh,” pikirku, “Kurasa tadi hanya ada aku di stasiun ini.”

Aku memasang telinga dan mendengar bahwa orang yang ada di bilik sampingku adalah seorang pria dan ia tengah menelepon.

“Ya ya aku tahu ....... ya maaf menganggumu malam-malam. Omong-omong bagaimana kabarmu?”

Aku hanya sayup-sayup mendengar suara dari seberang telepon.

“ .... yang ... ju ... tidak ... di ....”

“Ya ya, aku mendengarmu. Apa? Apa kau serius? Hahaha ... lucu sekali.”

“ ... ba ... ra .... saat ...”

“Oh begitu, maaf sudah menganggumu malam-malam begini. Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi bagaimana ya, bisa kau ulangi lagi tadi?”

Begitu aku mendengar suara balasan dari telepon itu, “ ... you are ...”

Segera setelah aku mendengarnya, aku bergegas keluar dari toilet dan kabur dari stasiun itu. Mungkin aku bermalam di kantor polisi saja.

URBAN LEGEND #18: KASIR

 

KASIR

CASHIER

(Cerita ini adalah sebuah riddle)

 

Sebagai petugas kasir sebuah supermarket, hari-hariku diisi dengan suara “Bip bip” dari mesin scanner. Scan, “bip”, keranjang , uang, kembalian, kuitansi. Scan, “bip”, keranjang, uang, kembalian, kuitansi. Scan, “bip”, keranjang, uang, kembalian, kuitansi. Itu saja kerjaaanku seharian.

Seperti hari ini: scan, tahu, asparagus, wortel, kacang polong...seorang vegetarian. Sereal, spaghetti, susu kotak, macam-macam permen....orang tua dengan banyak anak. Sebotol anggur, keju impor, roti, apel...penghasilan mapan, tanpa anak. Tas plastik ukuran besar, bleacher, pembersih lantai, tali tambang, gergaji, saus barbecue...jangan lihat ke atas, jangan lihat ke atas, menunduk saja....

URBAN LEGEND #16: TULANG DI DALAM DINDING

 

TULANG DI DALAM DINDING

(Cerita ini adalah sebuah riddle)

 

Aku sedang melihat berita ketika foto rumah lama temanku terpapang di layar televisi.

“Sore ini ditemukan jenazah seorang gadis di dalam tembok rumah di wilayah XXX. Penemu mayat tersebut adalah pemilik baru rumah tersebut yang hendak merenovasinya. Saat ia merubuhkan dinding, dia tidak menyangka akan menemukan tulang-belulang seorang perempuan di baliknya ... “

Aku segera menelepon temanku itu. Memang benar baru saja keluarganya menjual rumahnya dan ia pindah ke rumah yang baru.

“Bro ... kau sudah mendengar kalo polisi menemukan jenazah di dalam dinding rumahmu?”

“Apa? Kau serius?’ ia tampak sangat kaget saat mendengarnya.

“Ya ... semua ada di berita. Pemilik rumah barumu yang menemukannya saat ia hendak merenovasi rumah itu.”

“Ya Tuhan ... itu sangat menakutkan! Bayangkan saja selama ini aku tinggal di sana dan ada mayat perempuan di dalam dinding rumahku ... benar-benar mengerikan!”

“Iya, aku juga sering ke rumahmu kan? Benar-benar membuatku merinding jika aku membayangkannya.”

Akupun menutup teleponnya. Pasti temanku itu sangat shock. Sebaiknya aku segera memanggil polisi.

URBAN LEGEND #15: PETAK UMPET

 

PETAK UMPET

HIDE AND SEEK

(Cerita ini adalah sebuah riddle)

 

Ada delapan orang bermain petak umpet hari itu, termasuk aku. Aku yang pertama kali ditemukan, padahal baru 5 menit pertama. Tiga orang lagi ditemukan 5 menit berikutnya. Dan sisanya, empat orang ditemukan 5 menit selanjutnya. Ah, permainan ini cepat sekali selesainya. Aku nggak mau bermain petak umpet lagi.

URBAN LEGEND #14: BELAJAR DI KAMAR

 

BELAJAR DI KAMAR

(Cerita ini adalah sebuah riddle)

 

Seorang anak sedang belajar sendirian di kamarnya. Namun ia merasakan seperti ada yang menatapnya dari belakang. Iapun menoleh dan menatap refleksi dirinya sendiri yang terpantul di cermin di belakangnya. “Ah, aku lupa ada cermin di situ. Pantasan aku merasa ada yang menatapku dari tadi.” Iapun tertawa dan kembali belajar.

URBAN LEGEND #13: ENGLISH TEST

 

ENGLISH TEST

(Cerita ini adalah sebuah riddle)

 

Aku menerima tes bahasa Inggris dari dosenku. Namun bunyinya aneh sekali, seperti teka-teki.

1. The third vocal.

2. There is no night in a knight.

3. Me

4. There is no earn in learn.

5. There is no and in a land.

6. There is no “acute respiratory disease” in a yard.

7. There is no pen in open.

8. You

Ah sial! Aku takkan lulus mata kuliah ini, yakin 100%!

URBAN LEGEND #12: UJI NYALI II

 

UJI NYALI II

(Cerita ini adalah sebuah riddle)

 

Dua orang wanita menguji nyali mereka di rumah sakit yang terbengkalai. Mereka memakai kamera untuk menangkap gambar penampakan.

“Apa kau menangkap sesuatu dengan kameramu?”

“Kurasa tidak.”

“Masa?”

“Coba kulihat. Wah benar, ternyata nggak ada apa-apa.”

“Ayo kita pulang saja. Aku bosan.”

“Oke, ayo.”

URBAN LEGEND #11: DI TOILET PEREMPUAN

 

DI TOILET PEREMPUAN

(Cerita ini adalah sebuah riddle)

 

Aku hendak masuk ke dalam toilet ketika seorang pria berjas memperingakanku. “Hati-hati jika masuk. Lantainya basah dan kepalamu bisa terbentur ke wastafel di sebelah kananmu.”. Akupun masuk dengan hati-hati dan ia benar, lantainya licin sekali. Untung sekali aku tidak terjatuh. Aku harus berterima kasih pada orang itu jika kami bertemu lagi.

URBAN LEGEND #10: JAM PASIR

 

JAM PASIR

HOURGLASS

(Cerita ini adalah sebuah riddle)

 

Aku memiliki jam pasir yang sangat indah sebagai hadiah. Pasir-pasirnya sangat halus dan berwarna. Dibutuhkan waktu 5 jam agar semua pasirnya jatuh, namun itu adalah pemandangan yang paling indah yang pernah kulihat. Aku tak bosan-bosannya memandangnya. Sebuah hiburan yang menyenangkan untuk seorang yang hidup sendirian seperti aku. Saat terbaiknya adalah saat aku membaliknya pada pagi sebelum berangkat kerja, dan setelah aku pulang dari kantor, rasa lelahku langsung hilang ketika melihat pasir-pasir itu berjatuhan. Senangnya.

URBAN LEGEND #9: BUNUH DIRI BERSAMA

 

BUNUH DIRI BERSAMA

(Cerita ini adalah sebuah riddle)

 

Tiga orang sahabat memutuskan untuk bunuh diri bersama sebagai suatu bentuk solidaritas.

“Bagaimana cara kita bunuh diri?” tanya salah satu dari mereka.

“Aku akan memotong tangan kanan.” Kata A.

“Kalau begitu aku tangan kiri.” Kata B.

Namun C merasa ragu sehingga mengatakan, “Aku takkan melakukan apapun.”

Namun pada akhirnya, dua orang selamat dan hanya satu yang meninggal karena pendarahan di tangannya.

URBAN LEGEND #8: PARFUM

 

PARFUM

PERFUME

(Cerita ini adalah sebuah riddle)

 

Seorang wanita tinggal sendiri di sebuah apartemen. Ia memasang sebuah alat penyemprot parfum dengan sensor gerak di kamar apartemennya. Dengan demikian, apabila ia pulang, bau parfum yang harum akan segera tercium.

Namun suatu malam, ketika ia pulang, kamarnya sudah dalam keadaan acak-acakan. Rupanya seseorang telah membobol kamar apartemennya. Dengan panik, ia segera mengecek barang-barangnya. Rupanya tak satupun barang berharga miliknya yang hilang. Dengan lega ia segera mengunci pintu dan memutuskan untuk tidak menelepon polisi.

Untuk menenangkan diri, iapun duduk dan memutuskan bersantai dengan membaca buku.

“Ah, paling tidak ruangan ini harum.” katanya dalam hati.

URBAN LEGEND #7: JEMBATAN GANTUNG

 

JEMBATAN GANTUNG

THE SUSPENSION BRIGDE

(Cerita ini adalah sebuah riddle)

 

Aku sedang kamping bersama-sama dengan temanku. Karena merasa bosan, akupun memutuskan berjalan-jalan sendirian sambil menikmat udara pegunungan. Tiba-tiba aku melihat sebuah jembatan gantung yang cukup panjang melintasi sebuah jurang yang dalam. Ada temanku dii seberang jembatan itu, jadi aku memutuskan melewatinya.

Aku menatap ke bawah. Di bawah jembatan ini melintas sebuah sungai. Ketika aku melewatinya, mulai muncul perasaan takut dalam diriku.

Tiba-tIba saja papan kayu yang menjadi landasanku tiba-tiba terjatuh ke sungai. Aku menjerit karena kakiku terperosok, namun untunglah aku sempat berpegangan pada tali pegangan jembatan itu sehingga aku tak ikut jatuh.

Temanku yang berada di seberang itupun segera berusaha menolongku.

“Fiuh, hampir saja. Kupikir tadi aku akan mati.”

“Aa kau baik-baik saja?” tanya temanku itu, “Jembatan ini memang sudah lapuk. Aku akan memperbaiki talinya.”

URBAN LEGEND #6: BERITA PAGI

 

BERITA PAGI

MORNING NEWS

(Cerita ini adalah sebuah riddle)

 

Seorang pria baru saja pulang kerja dan menikmati malam dengan menonton acara televisi. Karena mulai merasa mengantuk, iapun mematikan televisinya dan pergi tidur. Keesokan harinya ia terbangun karena tayangan berita pagi. “Hari ini sebuah kereta mengalami kecelakaan mengerikan. Semua penumpangnya dinyatakan tewas.” Melihat berita itu, wajah pria itu langsung pucat dan ia segera melompat dari jendela rumahnya.

URBAN LEGEND #5: PUTRIKU SEDANG BERMAIN DENGAN CERMIN

 

PUTRIKU SEDANG BERMAIN DENGAN CERMIN

MY DAUGHTER WAS PLAYING WITH A MIRROR

(Cerita ini adalah sebuah riddle)

 

Putriku sedang bermain dengan cermin. Ia mengangkat tangan kanannya. Ketika bayangannya di cermin melakukan hal yang sama, aku segera membuang cermin itu. Aku tak pernah lagi membiarkan putriku bermain dengan cermin.

URBAN LEGEND #4: APA YANG JACK DENGAR

 

APA YANG JACK DENGAR

WHAT JACK HEARD

 

Jack, seorang fotografer freelance, tertegun ketika ia mendengar suara-suara di sekitarnya.

Suasananya di kelas itu sangatlah ramai. Suara percakapan tiada henti dari para murid menenggelamkan suara guru yang berusaha menenangkan mereka. Suara pensil yang berjatuhan, tawa para murid, suara bersin yang keras, serta suara kertas yang diremas-remas untuk kemudian dilemparkan ke keranjang sampah, terdengar bercampur aduk menjadi satu.

Jack dengan cepat menjepret beberapa foto ruang kelas dan kemudian pergi. Ia tak ingin menarik perhatian dari para murid dan guru itu. Setelah keluar dari gerbang sekolah, ia mengambil napas panjang untuk menenangkan dirinya.

Bekerja untuk majalah misteri adalah kesalahan terbesarnya, pikir Jack saat ia masuk ke dalam mobil. Secepat mungkin ia segera mengendarai mobilnya meninggalkan sekolah angker yang sudah terbengkalai bertahun-tahun itu.

URBAN LEGEND #3: STOP KONTAK

 

STOP KONTAK

OUTLET

(sebuah J-creepypasta)

  1503950_622811124467662_3566429829827571545_n

Aku pertama menyadarinya saat pacarku datang untuk membantu membersihkan kamar apartemenku yang berantakan. Aku orangnya sangat pemalas sehingga seringkali aku membiarkan kamarku terisi dengan sampah-sampah yang berserakan. Yah, apa boleh buat. Aku adalah lelaki lajang yang tinggal sendirian di kamar apartemen yang sempit.

Karena itu, pacarku kadangkala datang dan membantuku bersih-bersih. Hari itu seperti biasa pacarku mengumpulkan benda-benda yang ia temukan berserakan, entah di atas meja, di lantai, atau bahkan di belakang lemari. Kemudian ia akan menunjukkan padaku dan aku yang akan menentukan apakah barang itu harus dibuang ataukah masih kuperlukan. Kamarku mulai terlihat rapi ketika pacarku memperhatikan sesuatu yang tergeletak di lantai.

“Hei, tunggu sebentar!” ia berjongkok di depan stop kontak dan menunjuk ke seutas rambut hitam panjang yang menjulur keluar dari stop kontak. “Rambut siapa ini?”

Aku menatap rambut itu seperti orang dungu, lalu menatap wajah pacarku. Matanya penuh dengan rasa curiga dan ekspresinya terasa dingin. Ia tahu semua temanku adalah laki-laki dan tak perlu peramal hebat untuk menebak apa yang ada di pikirannya. Rambutku benar-benar pendek dan rambutnya pun tak sepanjang itu. Masalahnya adalah, aku tak pernah mengundang gadis lain masuk ke kamarku, selain kekasihku itu.

Tatapannya mulai membuatku merasa tak nyaman, jadi aku meraih ujung rambut itu dan berusaha menariknya keluar dari soket. Rambut itu terputus. Namun sensasi yang kurasakan saat aku menariknya keluar dari lubang stop kontak itu sama dengan sensasi saat menarik rambut manusia yang sesungguhnya.

Perasaan itu membuatku tidak nyaman. Aku menjatuhkan rambut itu di lantai tanpa berpikir. Rambut itu terjatuh di atas lantai kayu apartemenku dan mulai menari tertiup angin hingga akhirnya terbang keluar melalui jendela. Aku berbaring dengan dadaku menyentuh lantai, mencoba melihat apa yang ada di dalam soket. Namun mataku tak menemui apapun kecuali kegelapan.

Setelah kejadian itu, baik aku maupun pacarku sudah melupakannya. Suatu malam kami pergi ke tempat karaoke hingga larut malam. Karena kelelahan, aku tertidur di atas sofa. Begitu terbangun, aku sadar bahwa aku sudah terlambat kerja. Dengan panik, akupun lekas mandi dan segera meraih ranselku yang tergeletak dekat dinding. Ketika aku mengangkat tas itu, mataku tanpa sengaja melihat ke arah stop kontak itu.

Keluar dari salah satu lubang itu adalah seutas rambut panjang berwarna hitam. Ujungnya tergeletak di atas lantai, sedangkan ujung lainnya masih tertelan lubang stop kontak itu. Seolah-olah rambut itu tumbuh dari dalam lubang yang gelap itu.

Entah mengapa, aku merasa rambut itu adalah rambut yang sama dengan yang ditemukan pacarku kemarin. Bahkan aku merasa rambut itu berasal dari orang yang sama. Rambut itu mulai membuatku takut, sehingga sama seperti yang dulu kulakukan, aku menarik rambut itu dan, “Pluk!” seolah-olah aku mencabut rambut itu dari kepala seseorang.

“Apa-apaan ini? Aku segera membuang rambut itu dan menancapkan steker radio ke dalam stop kontak itu, mencoba menghalanginya. Aku segera mengambil tasku dan berangkat kerja.

Radio yang kutancapkan ke stop kontak itu cukup besar dan lama-kelamaan akupun melupakannya. Apartemenku perlahan-lahan menjadi berantakan lagi. Akupun membereskan buku-buku komik yang berserakan dan menatanya menjadi tumpukan di dekat tempat tidurku. Pada malam itulah aku mengalami kejadian yang sangat menakutkan.

Pada tengah malam, aku terbangun karena suara gemeretak yang aneh. Aku menyalakan lampu dan mencoba mencari asal suara itu. Ternyata suara itu berasal dari radioku, lebih tepatnya dari pemutar kasetnya. Anehnya lagi, sebelumnya radio itu tak terlihat dari ranjangku karena tertutup oleh tumpukan komik yang tadi kutata. Namun kini tumpukan komik itu sudah ambruk di lantai, sehingga aku bisa melihat radio itu dengan jelas dari tempatku berada sekarang.

Ini tak masuk akal. Apa yang tiba-tiba membuat tumpukan komik itu tiba-tiba ambruk? Angin? Mustahil. Apa mungkin tumpukan buku tadi tak seimbang saat aku menatanya?

Pemutar kaset itu kembali mengeluarkan suara gemeretak. Aku kemudian bangun dan berusaha mematikannya. Namun begitu tanganku hampir menyentuh tombol off, aku baru tersadar.

Radio itu dalam keadaan mati.

Akupun berpikir radio itu mungkin rusak. Aku kemudian mengangkat radio dan membaliknya. Saat aku menariknya, aku merasakan sesuatu menariknya kembali.

Aku hampir saja menjatuhkan radio itu saat melihat rambut ... banyak sekali rambut ... meliliti kabel belakang radio itu. Asalnya dari stop kontak itu. Rambut itu sangatlah banyak, hingga seakan-akan aku melihat bagian belakang kepala seseorang keluar dari stop kontak itu.

Aku menarik radio itu lebih keras, namun tolakan yang kurasakan juga semakin kuat. Akupun menaruh kembali radio itu dan mencoba menarik rambut-rambut yang keluar dari lubang stop kontak itu.

Aku menarik sekuat tenaga, tak peduli sekuat apapun ia mencoba melawan. Aku merasa seakan aku mencoba menarik rambut dari kepala seseorang. Dan akhirnya aku menang. Dengan segenap kekuatanku aku berhasil mencabut rambut-rambut itu dari stop kontak ...

Dan darah terciprat dari dalam soket itu.

Aku menjerit sebelum akhirnya aku pingsan karena ketakutan.

Saat aku tebangun paginya, aku tahu apa yang kualami tadi malam bukanlah mimpi.

Cipratan darah tampak di dekat soket itu. Rambut bertebaran dimana-mana. Aku membersihkannya sendirian dan mengepaki semua barang-barangku pagi itu juga. Aku tak bisa lagi tinggal di sini. Kalian tahu mengapa.

Mungkin rasa penasaran yang kuat menarikku untuk melihat sekali lagi ke arah stop kontak itu.

Kali ini tak ada lagi rambut.

Melainkan ...

Sebuah jari keluar dari lubang soket itu, seakan mencari sesuatu.

URBAN LEGEND #2: KLAKSON MOBIL JENAZAH

 

KLAKSON MOBIL JENAZAH

THE HONKING HEARSE

(sebuah J-creepypasta)

  tumblr_n3un0aB19a1rs4kcvo1_500

Seorang gadis bernama Kana tinggal bersama orang tua dan neneknya. Neneknya semula adalah wanita tua yang baik hati. Namun beberapa tahun terakhir, ia hanya menghabiskan sebagian besar waktunya di atas tempat tidur dan menjadi eksentrik. Ia tak hanya menjadi manja dan sering mengeluh pada ibu Kana yang selalu merawatnya, namun juga sering mengatakan hal-hal yang membuat orang lain depresi.

“Kamu hanya menungguku untuk mati!” ia selalu mengulanginya terus-menerus. Mencoba untuk menenangkannya jutsru hanya membuatnya bertambah yakin pada pendapatnya. Akhirnya ibu Kana menjadi muak dan mulai berhenti mengurusnya. Wanita tua itu menjadi kurang mendapat perhatian dan kualitas makanan yang ia dapatkan pun menurun drastis. Kesehatannya pun menurun dan akhirnya ia tak lagi mampu bergerak maupun berbicara. Ia tak pernah lagi bangkit dari tempat tidurnya dan jelas bahwa hidupnya takkan lama lagi.

Kisah ini berawal dari pengalaman aneh yang dialami Kana suatu malam. Suatu malam saat sedang tertidur, ia terbangun karena suara klakson mobil yang menggema di luar rumahnya. Ia mencoba untuk mengabaikannya dan kembali tidur, namun suara klakson itu justru bertambah keras. Kana menjadi kesal dan memutuskan untuk bangun dan menengok keluar jendela.

Kana membeku ketakutan begitu melihat mobil yang terus-menerus membunyikan klaksonnya itu.

Itu adalah sebuah mobil jenazah.

Dan mobil itu berhenti tepat di depan rumahnya.

Kana tak bisa memastikan apakah ada orang di dalam mobil itu, namun tampaknya mesin mobil itu tak menyala. Saat Kana memperhatikan mobil itu, tiba-tiba saja bunyi klakson itu berhenti. Seolah-olah siapapun yang berada di dalam mobil itu tahu Kana tengah memperhatikannya.

Atau mungkin tujuan mobil itu terus menyalakan klakson agar Kana menengok keluar?

Kana menjadi takut dan segera berlari ke atas tempat tidurnya kembali. Ia menutup selimutnya hingga ke atas kepalanya dan menunggu pagi datang. Sepanjang malam itu ia lalui dengan suasana sunyi.

Pagi harinya, Kana bertanya kepada keuda orang tuanya apakah mereka mendengar klakson mobil jenazah di luar rumah mereka tadi malam. Namun mereka berdua ternyata tak mendengar apapun. Tak mungkin mereka tak mendengarnya, pikir Kana. Suara klakson itu keras sekali, cukup untuk membangunkan tetangga-tetangga mereka. Namun orang tua Kana sepertinya tak punya alasan untuk berbohong. Lagipula, tetangga-tetangga mereka juga seharusnya mendengar suara itu juga. Namun tak ada seorangpun yang mengeluh.

Hanya ada satu alasan yang masuk akal. Mobil jenazah itu datang untuk menjemput neneknya. Kana lalu mengintip ke kamar neneknya. Neneknya hanya terbaring saja di tempat tidur seperti biasa.

Mobil jenazah itu kembali malam berikutnya dan malam-malam selanjutnya. Kana mencoba mengabaikannya, namun suara klakson yang terus-menerus terdengar itu membuatnya tak bisa tidur. Anehnya, seperti malam yang lalu, klakson itu hanya berhenti bersuara jika Kana menatapnya dari jendela.

Pada hari ketujuh semenjak kehadiran mobil jenazah itu, orang tua Kana pergi untuk mengunjungi kerabat mereka. Kana ingin ikut dengan mereka, namun seseorang harus tinggal di rumah untuk menjaga neneknya.

Kana takut, tapi ia tak punya pilihan lain. Ia ingin memberitahukan orang tuanya mengapa ia begitu ketakutan, namun ia tahu mereka takkan percaya kepadanya. Rasa takutnya terhadap mobil jenazah itu sudah tak terbendung lagi, dan kini ia sendiri. Malam itu Kana mencoba menghibur dirinya dengan menyalakan televisi. Orang tuanya berjanji akan kembali keesokan harinya. Kana mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia hanya harus melewati malam ini saja dan setelah itu semuanya akan baik-baik saja.

Jarum jam menunjukkan jam 9. Tiga jam lagi menuju tengah malam. Waktu kedatangan mobil jenazah itu makin mendekat. Kana menunggu telepon dari orang tuanya. Mereka berjanji akan meneleponnya malam itu untuk mengecek keadaannya, namun telepon itu tak kunjung datang. Akhirnya Kana tertidur.

Ia terbangun ketika mendengar klakson mobil jenazah itu. Kali ini suaranya tepat berasal dari depan rumahnya.

Dengan ketakutan, Kana menengok melalui jendela ruang tamu.

Seusai dugaannya, mobil jenazah itu terparkir di depan rumahnya. Namun kali ini sesuatu yang berbeda yang membuat Kana menggigil ketakutan.

Biasanya mobil itu selalu tampak kosong. Namun kali ini ada beberapa orang berpakaian hiam-hitam keluar dari mobil itu.

Ia menatap dengan ketakutan ketika orang-orang itu mendekati gerbang rumahnya.

Apa mereka hendak masuk ke sini? Kana mulai panik.

Bel pintu rumahnya berdering dengan keras di tengah kesunyian rumah itu. Siapapun yang berada di depan itu menekan bel dengan keras dan tanpa henti, seolah-olah mereka bersikeras ingin masuk.

Deringan bel itu akhirnya berhenti, berganti dengan suara ketukan halus di pintu. Namun suara ketukan yang awalnya pelan itu berubah menjadi sangat keras hingga seolah-olah mereka hendak mendobrak pintu tersebut.

Tubuh Kana terpaku karena rasa takut. Kana mulai berpikir, bagaimana jika pintu depan belum dikunci? Sudahkah ia menguncinya? Kana tak bisa mengingatnya. Mungkin saja belum. Jika itu benar, maka yang perlu mereka lakukan untuk masuk hanyalah memutar pegangan pintu.

Kana berusaha mengalahkan rasa takutnya dan berlari ke arah pintu. Namun sebelum tangannya menyentuh pegangan pintu, telepon di rumahnya berdering.

Apa itu dari ayah dan ibu, pikir Kana, syukurlah.

“Halo! Halo!” ia segera mengangkat teleponnya, berharap orang tuanya bisa segera pulang untuk menolongnya.

“Apa ini kediaman keluarga Murata?” ternyata suara itu adalah suara pria yang tak pernah dikenalnya. Sesuatu mengenai nada suaranya mebuat Kana lebih ketakutan.

“Saya polisi, maaf tapi saya harus memberitahukan berita ini kepada anda. Anda putri keluarga Murata bukan? Orang tua anda terbunuh dalam kecelakaan lalu lintas sore ini. Saya sangat berduka cita ...”

Kana tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Anehnya, siapapun yang sejak tadi menggedor-gedor pintu depan akhirnya berhenti. Pikirannya segera memburu. Apakah mobil jenazah itu bukan ingin menjemput neneknya, melainkan orang tuanya?

Namun mengapa mereka ada di sini? Orang tuanya tidak meninggal di sini.

Tiba-tiba Kana merasakan tepukan di pundaknya. Dengan gemetar Kana menoleh dan melihat wajah pucat neneknya, yang seharusnya terbaring lumpuh di atas tempat tidur.

“Ayo,” ia berbisik di telingan Kana, “kau ikut juga ...”